Monday, October 26News That Matters

Anak Mengalami Trauma? Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua


KORAN MANDALA – Pengalaman buruk yang dialami anak usia dini dapat berdampak pada kondisi psikologis, emosi, hingga perubahan perilaku.

Karena itu, orang tua perlu peka terhadap perubahan yang muncul dan memastikan anak kembali merasa aman, terutama jika pengalaman tersebut melibatkan orang terdekat.

Psikolog pendidikan Listia Rahmandaru G. menjelaskan, anak berusia 3,5 tahun masih berada dalam tahap perkembangan kemampuan bahasa dan kognitif.

Pada usia tersebut, anak juga masih sangat bergantung kepada orang dewasa sehingga belum sepenuhnya mampu memahami dan mengungkapkan pengalaman yang dialaminya.

Menurut Listia, salah satu dampak trauma pada anak adalah hilangnya rasa aman, terlebih jika pengalaman buruk tersebut melibatkan orang tua yang seharusnya menjadi pelindung.

“Jadi ketika mengalami ini, dampaknya pertama adalah hilangnya rasa aman. Jadi dibayangkan, apalagi ini adalah orang tua sendiri yang harusnya jadi pelindung. Dia ternyata mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan,” ujar Listia saat dihubungi Koran Mandala, Senin (26/10/2026).

Ia menjelaskan, pengalaman tersebut dapat memunculkan ketakutan terhadap orang tua maupun orang dewasa lainnya. Dampaknya juga berpotensi terbawa hingga anak tumbuh dewasa, termasuk dalam membangun rasa percaya terhadap orang lain.

Selain itu, trauma dapat memengaruhi kondisi emosional anak. Perubahan tersebut dapat terlihat dari emosi negatif yang lebih sering muncul, seperti mudah marah, sedih, cemas, atau rewel.

Perubahan juga bisa terjadi pada kebiasaan sehari-hari, mulai dari pola tidur, pola makan, hingga interaksi sosial. Namun, bentuk dan tingkat dampaknya dapat berbeda pada setiap anak.

“Dampaknya pada setiap anak secara spesifik akan berbeda. Tapi yang paling sering muncul sih, ya, itu, enggak jauh dari makan, tidur, interaksi sosial,” katanya.

Listia menambahkan, anak yang mengalami pengalaman traumatis juga dapat menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Perubahan tersebut tidak selalu langsung terlihat sehingga orang tua perlu memperhatikan kondisi anak secara cermat.

Pendampingan Harus Mengutamakan Rasa Aman

Dalam mendampingi anak yang mengalami trauma, Listia menekankan pentingnya memastikan anak terlindungi dari situasi maupun pihak yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Pendampingan juga perlu dilakukan secara bertahap dengan melibatkan tenaga profesional, seperti psikolog atau pihak dari Dinas Perlindungan Anak.

Ketika anak mulai menceritakan pengalamannya secara spontan, orang tua disarankan mendengarkan dengan tenang dan memberikan apresiasi karena anak telah berani bercerita.

“Diapresiasi kalau sudah cerita, terima kasih sudah cerita. Ditekankan bahwa dia tidak bersalah,” ucapnya.

Listia juga mengingatkan agar orang tua tidak mengajukan pertanyaan yang mengarahkan atau mengandung dugaan tertentu. Pertanyaan semacam itu berisiko memengaruhi cara anak menyampaikan ceritanya.

“Jadi benar-benar nanya dikit-dikit cerita, terus jangan meresponsnya juga berlebihan. Jangan terkejut berlebih. Jadi memang harus pelan-pelan,” jelasnya.

Selain memberikan dukungan emosional, orang tua perlu membantu anak kembali menjalani rutinitas yang sehat, seperti bermain, makan, tidur, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Listia menegaskan, pendampingan tidak hanya membutuhkan perhatian terhadap kondisi anak, tetapi juga dukungan bagi orang tua agar tetap berada dalam keadaan baik selama proses pemulihan berlangsung.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *