
Pengembangan industri fesyen tidak hanya bergantung pada kreativitas desain, tetapi juga kemampuan pelaku usaha mengakses pemasok bahan, mitra produksi, hingga layanan pendukung bisnis. Keterhubungan dengan berbagai pihak tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membantu industri kecil dan menengah (IKM) fesyen meningkatkan kapasitas usahanya.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya memperluas akses tersebut melalui kolaborasi dengan penyelenggara Bali Fashion Network (BFN) 2027. Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri fesyen dengan berbagai mitra dalam rantai bisnis, mulai dari produsen garmen, pemasok material, hingga penyedia layanan pembiayaan dan teknologi.
Melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), Kemenperin juga menghadirkan Klinik SiniBisa untuk membantu pelaku IKM memahami kebutuhan administrasi dan legalitas usaha.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita mengatakan, penguatan industri fesyen membutuhkan keterlibatan pemerintah dan mitra industri agar pelaku usaha memperoleh akses terhadap informasi, jaringan bisnis, serta peluang pengembangan usaha.
“Melalui kegiatan seperti Bali Fashion Network, pelaku IKM dapat memperoleh akses terhadap informasi, jejaring, dan peluang yang mendukung pengembangan usahanya,” ujar Reni dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (25/10/2026).
Kerja sama BPIFK dengan PT Paramatex selaku penyelenggara BFN ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama pada 30 September 2026. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas akses IKM terhadap konsultasi usaha, mitra produksi, dan jaringan bisnis.
70 Booth Hadirkan Beragam Mitra Industri
BFN 2027 menghadirkan 70 booth yang mencakup 17 kategori industri. Cakupannya tidak hanya terbatas pada fesyen dan pakaian, tetapi juga meliputi produksi garmen, bordir, kerajinan, perhiasan, kemasan, percetakan, logistik, perbankan, teknologi, hingga desain.
Keragaman peserta tersebut membuka peluang bagi pelaku IKM untuk mencari mitra sesuai kebutuhan bisnis. Pemilik merek, misalnya, dapat menjajaki kerja sama dengan produsen untuk memenuhi kebutuhan produksi, mencari pemasok bahan, atau mengakses layanan pendukung untuk mengembangkan produknya.
Kepala BPIFK Dickie Sulistya Aprilyanto mengatakan, Klinik SiniBisa menyediakan pendampingan langsung bagi IKM fesyen dan kriya, terutama untuk memahami persyaratan administrasi dan legalitas usaha.
Layanan tersebut mencakup konsultasi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta pendaftaran akun Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).
Kelengkapan administrasi itu membantu pelaku usaha mempersiapkan persyaratan untuk mengakses program fasilitasi pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan demikian, penguatan usaha tidak hanya menyasar aspek desain dan pemasaran, tetapi juga kesiapan administratif yang dibutuhkan untuk mengikuti program pemberdayaan.
Baca Juga: Kemenperin Matikan Situs Sementara Akibat PHP2Shell
Baca Juga: Impor Kapal Tembus US$5,3 Miliar, Kemenperin Dorong Industri Lokal
Legalitas Jadi Bagian dari Pengembangan Usaha
Kemenperin menempatkan Klinik SiniBisa sebagai salah satu layanan untuk mendekatkan pelaku IKM dengan informasi dan pendampingan yang diperlukan dalam pengembangan bisnis.
Di sisi lain, perluasan jejaring melalui BFN memberi ruang bagi pelaku usaha untuk bertemu dengan berbagai pihak yang berpotensi mendukung kegiatan produksi dan pemasaran.
BFN 2027 berlangsung pada 17 Oktober 2026 di H Convention Hall, Harris Hotel & Residence Sunset Road, Denpasar, Bali. Rangkaian kegiatan meliputi peragaan busana, presentasi mitra, kompetisi fesyen, serta sesi jejaring yang mempertemukan desainer, pemilik merek, produsen, pemasok material, dan pelaku usaha dari sektor pendukung.
Bagi IKM, akses terhadap jaringan bisnis dan layanan pendampingan tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat kesiapan usaha. Namun, dampak kolaborasi terhadap peningkatan kapasitas produksi maupun terbentuknya kemitraan komersial masih perlu dilihat dari hasil konkret yang dicapai para peserta.
