Sunday, October 25News That Matters

Obama Kritik Keras Trump, Salahkan Perang Iran atas Kenaikan Harga Barang di AS


Wacana Berita, Jakarta –

Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengkritik kebijakan Presiden Donald Trump terkait perang dengan Iran.

Obama menilai konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak dan bahan bakar, yang kemudian berdampak pada mahalnya berbagai barang di pasar.

Dilansir dari Al Jazeera, Minggu (25/10/2026), Obama menyampaikan kritik itu saat berkampanye di Ohio menjelang pemilihan paruh waktu AS.

Ia mengaitkan tekanan harga yang dirasakan masyarakat dengan konflik Iran yang berlangsung di bawah pemerintahan Trump.

Obama juga membandingkan pendekatannya dalam menghadapi persoalan nuklir Iran dengan kebijakan pemerintahan saat ini.

Menurut dia, diplomasi dapat digunakan untuk membatasi program nuklir Teheran tanpa harus melancarkan serangan militer.

“Iran tidak memiliki senjata nuklir karena saya telah menetapkan sebuah kesepakatan yang diakui oleh semua pihak mampu mencegah mereka memperoleh senjata nuklir. Dan saya tidak perlu meluncurkan satu pun rudal untuk mencapainya. Saya hanya perlu melakukan diplomasi,” kata Obama.

Ia turut menyoroti posisi strategis Iran di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dunia.

Menurut Obama, konflik tersebut membuat Iran memiliki pengaruh besar terhadap kelancaran perdagangan energi melalui jalur tersebut.

Baca Juga: Starlink Jadi Sorotan di Perang Ukraina, Trump Klaim Akses Telah Dipulihkan

“Saat ini, Iran memiliki hak veto atas Selat Hormuz, jalur yang dilalui minyak untuk didistribusikan ke pasar dunia,” ujar mantan presiden itu.

Obama menilai gangguan di sektor energi menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan biaya hidup masyarakat AS.

Lonjakan harga minyak berimbas pada harga bahan bakar diesel dan berbagai kebutuhan lainnya.

“Inilah alasan mengapa harga minyak naik. Inilah alasan mengapa harga bahan bakar diesel naik. Inilah alasan mengapa harga hampir semua barang mengalami kenaikan.”

Obama juga menyinggung kesepakatan nuklir yang dicapai pada 2015 saat pemerintahannya.

Perjanjian yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) itu mengharuskan Iran membatasi pengayaan uranium dan menerima inspeksi internasional sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi ekonomi.

Namun, Trump menarik AS keluar dari kesepakatan tersebut pada 2018, ketika menjalani masa jabatan pertamanya sebagai presiden.

Dalam kampanyenya di Ohio, Obama menggunakan perjanjian tersebut untuk menegaskan bahwa jalur diplomasi pernah ditempuh dalam menangani persoalan nuklir Iran.

Ia mempertanyakan pendekatan konfrontasi militer yang kini menjadi bagian dari konflik antara AS dan Iran.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *