
Penguatan ketahanan kesehatan nasional menjadi fokus utama The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA) 2026 yang digelar Perkumpulan Ketahanan Kesehatan Indonesia (Pertasindo) di Grand Hermina Ballroom, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026. Forum tersebut menyoroti pentingnya membangun sistem kesehatan yang mampu menghadapi ancaman lintas wilayah.
Mengusung tema “Advancing Health Resilience Through the 5M Framework: Man, Money, Material, Machine, and Methods”, SIERA 2026 mempertemukan pembuat kebijakan, praktisi kesehatan militer dan sipil, akademisi, serta pakar internasional. Pertemuan itu dirancang untuk membahas strategi penguatan ketahanan kesehatan Indonesia secara terintegrasi.
Ketahanan kesehatan bagian dari ketahanan nasional
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan ketahanan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari ketahanan nasional. Menurut dia, pengalaman Indonesia menghadapi bencana alam, ancaman penyakit menular, dan beragam krisis kesehatan memperlihatkan kebutuhan terhadap sistem yang mampu mengantisipasi, merespons, serta memulihkan diri dari ancaman secara cepat dan efektif.
“Untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap krisis kesehatan, memperkuat sinergi kesehatan sipil dan militer, mendorong inovasi serta kemandirian teknologi kesehatan, dan membangun kolaborasi global,” ujar Benjamin, Minggu (25/10/2026).
Ia menekankan bahwa ancaman kesehatan tidak dibatasi wilayah geografis. Karena itu, pertukaran pengetahuan, penelitian bersama, dan kerja sama internasional dinilai penting untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh serta berkelanjutan.
SIERA 2026 berlangsung selama tiga hari melalui rangkaian simposium, diskusi ilmiah, dan workshop. Agenda tersebut membahas sejumlah isu strategis, antara lain kebijakan kesehatan berbasis bukti, kesiapsiagaan layanan medis dalam situasi bencana, inovasi teknologi, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan.
Mendorong rekomendasi dan inovasi konkret
Benjamin berharap penyelenggaraan SIERA tidak berhenti sebagai ruang pertukaran gagasan. Ia menginginkan forum tersebut menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat mendukung kesiapsiagaan dan ketahanan kesehatan Indonesia.
Menurut dia, sinergi antara berbagai pemangku kepentingan diharapkan memberi kontribusi nyata bagi pengembangan sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Kolaborasi itu mencakup unsur pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, serta pihak lain yang berkaitan dengan penguatan kapasitas kesehatan.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menilai ketahanan kesehatan juga harus ditopang sistem pengawasan yang efektif dan inovasi berbasis ilmu pengetahuan. Ia menempatkan kerja sama lintas sektor sebagai salah satu unsur penting dalam proses tersebut.
“Melalui kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah, saya yakin kita dapat mencapai banyak hal, seperti pengembangan teknologi baru, obat-obatan baru, vaksin baru, dan berbagai inovasi lainnya,” kata Taruna.
Ia mengajak seluruh pihak memanfaatkan pendekatan kolaboratif itu sebagai bagian dari upaya pengembangan dan peningkatan kapasitas nasional. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya keterhubungan antara riset, dunia usaha, dan kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan kesehatan.
