Sunday, October 25News That Matters

Dampaknya Tak Signifikan, Kurang dari 2 Persen!


Wacana Berita, Jakarta –

Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA) menyatakan pengurangan pasokan gas alam dari Indonesia hanya berdampak kurang dari 2 persen terhadap kebutuhan harian negara tersebut.

Singapura menyebut masih memiliki sejumlah alternatif untuk menjaga pasokan energi di tengah kebijakan pemangkasan ekspor gas Indonesia.

Pengurangan pasokan itu mulai berlaku pada Sabtu (24/10/2026). Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto sebelumnya mengumumkan pengurangan ekspor sebesar 31 miliar British thermal unit per hari (BBTUD).

Rinciannya, pasokan gas dari Natuna dikurangi 15 BBTUD, sedangkan dari Sumatera sebesar 16 BBTUD.

Namun, berdasarkan informasi dari importir gas di Singapura, EMA menyebut pengurangan pasokan yang tercatat mencapai 17 BBTUD selama 18 hari.

Angka tersebut tergolong kecil dibandingkan kebutuhan gas harian Singapura yang mencapai lebih dari 1.000 BBTUD.

Baca Juga: Indonesia-Singapura: Bertetangga, Saling Membutuhkan, tapi Tak Boleh Saling Menyandera

“EMA memahami bahwa importir kami akan menempuh semua langkah yang tersedia dalam kontrak mereka terkait gangguan pasokan gas ini,” ujar juru bicara EMA, dikutip dari The Straits Times, Minggu (25/10/2026).

EMA juga menyatakan telah menyiapkan rencana kontingensi untuk menghadapi kemungkinan gangguan pasokan gas.

EMA menjelaskan, Singapura sebelumnya pernah menghadapi pengurangan pasokan gas sebesar 20 BBTUD hingga 100 BBTUD dalam beberapa bulan terakhir.

Gangguan tersebut disebabkan oleh kegiatan pemeliharaan terencana maupun mendesak.

Pada periode tersebut, kekurangan pasokan berhasil diatasi dengan memanfaatkan sumber gas lainnya.

EMA menegaskan Singapura memiliki pasokan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Gas alam sendiri menyumbang sekitar 95 persen dari kebutuhan listrik Singapura. Selama ini, negara tersebut memperoleh gas melalui jaringan pipa dari Indonesia dan Malaysia, serta mengimpor gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) dari berbagai negara.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber tertentu, Singapura juga berupaya memperluas pilihan pasokan energi. Langkah tersebut mencakup pemasangan panel surya serta penelitian teknologi energi baru, termasuk nuklir dan panas bumi.

Juru bicara EMA menyebut Singapore GasCo, perusahaan utama yang menangani pengadaan dan penyaluran gas alam di Singapura, siap meningkatkan impor apabila dibutuhkan.

Selain itu, perusahaan pembangkit listrik di Singapura diwajibkan mempertahankan cadangan bahan bakar yang mencukupi, termasuk solar, untuk memastikan pembangkitan listrik tetap berjalan.

Di sisi lain, Gas Supply, salah satu pemasok gas terbesar di Singapura yang sepenuhnya dimiliki Temasek, mengakui pengurangan sementara pasokan dari Indonesia berdampak pada penyaluran gas kepada pelanggan.

Perusahaan tersebut menyatakan telah menghubungi pelanggan yang terdampak dan berkoordinasi dengan pemasok hulu untuk menangani situasi tersebut.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengumumkan pemangkasan ekspor gas ke Singapura pada Jumat (23/10/2026) malam, di sela-sela Malam Penganugerahan Penghargaan Energi Subroto 2026 di Jakarta.

“Mulai besok (Sabtu 24/10/2026), kita kurangi ekspor gas ke Singapura. Dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatera 16 BBTUD,” ujar Djoko, dikutip dari Antara.

Djoko menjelaskan, kebijakan tersebut hanya memengaruhi Singapura karena jaringan pipa yang digunakan untuk menyalurkan gas terhubung langsung dengan negara tersebut.

“Nggak ada (negara lain). Pipanya kan ke Singapura aja,” kata dia.

Gas dari Sumatera disalurkan kepada Gas Supply. Sementara itu, gas dari kawasan Laut Natuna dikirim melalui pipa bawah laut menuju fasilitas penerimaan yang dioperasikan Sembcorp Gas.

Mengacu pada laporan tahunan Sembcorp Industries 2023, perusahaan tersebut memiliki perjanjian jual-beli gas alam melalui pipa dari ladang gas West Natuna dengan nilai sekitar 1,9 miliar dollar AS.

Kedua perjanjian tersebut diperkirakan berlaku hingga 2028. The Straits Times telah menghubungi Sembcorp untuk meminta keterangan lebih lanjut.

Sebelumnya, Indonesia dan Singapura menyepakati perpanjangan pasokan gas pada 2022 hingga 2028, dengan volume yang lebih rendah dibandingkan kontrak sebelumnya.

Pemangkasan pasokan gas ke Singapura berlangsung di tengah pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai kemungkinan menghentikan ekspor energi kepada negara yang dinilai tidak menghargai Indonesia.

Bahlil menyebut kebijakan tersebut dapat diterapkan kepada negara mana pun.

Baca Juga: Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura Mulai Hari Ini

Meski demikian, Bahlil belum merinci kriteria negara yang dianggap tidak bersahabat atau tidak menghargai Indonesia sehingga dapat dikenai penghentian ekspor gas.

Ia menegaskan bahwa pemerintah telah memperhitungkan berbagai konsekuensi sebelum mengambil keputusan, termasuk potensi berkurangnya pendapatan dari ekspor apabila pengiriman energi ke luar negeri dihentikan.

“Pemerintah dalam membuat keputusan, setiap langkah sudah memikirkan semuanya. Yang jelas bahwa kita menghargai semua hubungan dengan siapa saja, tapi juga asas penghargaan harus sama juga,” ujar dia.

Bahlil juga menyatakan tidak mempermasalahkan kemungkinan negara yang kehilangan pasokan gas Indonesia membalas dengan menghentikan ekspor komoditas lain ke Indonesia.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *