
Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kapasitas program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Resilient, World Class, Agile, Knowledgeable (UMKM REWAKO). Program ini menjadi salah satu upaya BI dalam mendorong UMKM agar lebih tangguh, adaptif, dan berdaya saing.
Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan program UMKM REWAKO telah berjalan sejak 2022 dan kini memasuki angkatan kelima. Secara keseluruhan, sebanyak 215 UMKM telah tergabung dalam ekosistem pembinaan tersebut.
“Pembinaan UMKM REWAKO tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Prosesnya mencakup seleksi, asesmen, peningkatan kapasitas, pendampingan, implementasi, hingga pemantauan perkembangan usaha,” ujarnya dari Keterangan Resmi BI, Jumat (23/10/2026).
Melalui pendekatan tersebut, BI Sulsel berupaya memperkuat fondasi bisnis UMKM, mulai dari pola pikir kewirausahaan (entrepreneurship), kualitas usaha dan produk, tata kelola keuangan, strategi pemasaran, hingga pengelolaan sumber daya manusia (SDM).
Penguatan fundamental ini diharapkan dapat membantu UMKM meningkatkan daya saing dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Dengan pengelolaan bisnis yang lebih baik, UMKM juga diharapkan memiliki kesiapan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Tidak berhenti pada penguatan pasar domestik, BI Sulsel turut menyiapkan jalur pengembangan bagi UMKM yang memiliki produk dan kapasitas untuk memasuki pasar global melalui program UMKM REWAKO Ekspor.
“Melalui REWAKO Ekspor, BI Sulsel mendorong UMKM yang memiliki produk dan kapasitas memadai agar semakin siap bersaing di pasar internasional,” sebut Rizki.
Program REWAKO Ekspor telah berjalan sejak 2024. Hingga tahun ini, sebanyak 137 UMKM telah masuk dalam ekosistem pembinaan tersebut.
Melalui program tersebut, BI Sulsel mendorong pengembangan UMKM secara bertahap, mulai dari penguatan fondasi usaha hingga peningkatan kesiapan untuk bersaing di pasar internasional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk UMKM Sulawesi Selatan.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampaknya, dirasakan oleh pemilik usaha olahan ikan bandeng kas Makassar, BoluBollo. Pemilik bisnis BoluBollo Sumanto Manto Ia menyebut, pendampingan yang diterima membantu memperluas akses pasar, meningkatkan pemahaman keuangan, serta menghubungkan usahanya dengan jaringan ritel modern.
“kita Itu dibina soal pemasaran, ekses pasar ya. Ekses pasar sudah kerjasama dengan beberapa otok-otok retail, termasuk pengetahuan kita tentang literasi tentang keuangan.Itu kan penting sekali ya. Dibantu membuat laporan keuangan. Dari pake aplikasi dari bang Indonesia ya, ” kata Sumanto dalam wawancara, dikutip Sabtu (24/10/2026).
Di sisi lain, Sumanto mengatakan pengembangan usaha BoluBollo turut berkaitan dengan ketersediaan bahan baku dan sarana penyimpanan. Ia menyebut kerja sama dengan petambak berpotensi mendukung pemenuhan kebutuhan bahan baku seiring dengan pengembangan kapasitas produksi.
Sementara, Meliana Khohari, pemilik bisnis Sambal Simpati Lombok Kuning. Ia mengatakan, setelah mengikuti pembinaan BI, omzet usahanya meningkat hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu sekitar dua tahun. Kapasitas produksinya juga naik dari sekitar 1,5 ton menjadi 2,5–2,8 ton per bulan setelah proses pengisian produk yang sebelumnya dilakukan secara manual mulai diperbaiki.
Meliana mengatakan, pembinaan BI tidak hanya berfokus pada pelatihan produksi, tetapi juga menyentuh aspek mendasar pengelolaan bisnis, mulai dari pola pikir kewirausahaan, perhitungan harga pokok produksi, pengelolaan keuangan, hingga pemasaran digital.
Baca Juga: Belajar AI Lewat Pelatihan Sandiaga Uno, UMKM Jamu Instan Sukses Tingkatkan Omzet
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS Terkerek Kebijakan Pro-Market Bank Indonesia
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.894 per Dolar AS, Terkatrol Tiga Instrumen Bank Indonesia
“Setelah jadi binaan BI, kami juga difasilitasi seperti pendampingan, terutama media sosial, website, terus pendampingan ekspor,” ujar Meliana.
Dari sisi pasar, produk Sambal Simpati Lombok Kuning telah masuk ke sejumlah jaringan supermarket di Indonesia. Untuk pasar luar negeri, produknya pernah dikirim ke Jepang dan Selandia Baru.
“BI baru memfasilitasi usahanya menjajaki pasar Singapura melalui toko yang menjual produk Indonesia, meski pengirimannya masih dalam skala kecil,” imbuhnya.
Meliana terus memperluas peluang ekspor Sambal Simpati Lombok Kuning. Setelah produknya dikirim ke Jepang dan Selandia Baru, ia juga mulai menjajaki pasar Singapura melalui fasilitasi BI. Dukungan pendampingan dan akses pasar tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan produk ke pasar internasional sekaligus meningkatkan daya saing sambal lokal di pasar global.
