
Pengamat kebijakan publik Muhammad Said Didu mengkritik keras ajakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie yang meminta masyarakat untuk move on dari polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Said Didu bahkan berharap agar Tuhan mengampuni Jimly yang, menurut pandangannya, telah memaklumi pelanggaran etika dan moral yang dikaitkannya dengan keberlanjutan dinasti politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Baca Juga: Kubu Anti Gibran Mengajukan Tawaran Begini ke Jokowi: ‘Gimana Pak? Daripada Gini-Gini Aja?’
“Bangsa Indonesia yang waras diminta move on oleh Pak Jimly dan memaklumi pelanggaran etika dan moral yang selama ini dilakukan oleh dinasti Jokowi,” tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Sabtu (24/10).
“Semoga Allah mengampuni Pak @JimlyAs. Izinkan kami berhadapan dengan Bapak dan terus berjuang bersihkan bangsa ini dari kerusakan moral (atas dukungan Bapak) yang dilakukan oleh dinasti Jokowi,” tandasnya.
Sebelumnya, Jimly meminta masyarakat tidak terus larut dalam polemik terkait Gibran. Menurutnya, secara konstitusional Gibran telah menjabat sebagai Wakil Presiden RI sehingga publik perlu melihat realitas politik yang ada saat ini.
“Ada orang ngabisin waktunya urusan ijazah. Ada yang masih kecewa kepada Gibran. Terus, ya bagaimana? Dia sudah jadi wapres,” tuturnya, Jumat (23/10/2026).
Jimly juga menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto sejak awal meminta langsung kepada Jokowi agar Gibran menjadi pasangannya pada Pilpres 2024.
Baca Juga: ‘Gibran Sah Maju Wapres’: Pembelaan Keras di Tengah Desakan Mundur dan Hak Angket
Atas dasar itu, Jimly menilai sangat tidak mungkin bagi Prabowo untuk memberhentikan atau mencopot wakil presidennya sendiri di tengah berbagai desakan yang berkembang saat ini.
Menurut Jimly, posisi Gibran sebagai wakil presiden merupakan hasil proses politik yang telah berjalan dan saat ini telah ditetapkan secara konstitusional.
