
Pakar ekonomi politik dan Studi Kawasan Asia di Melbourne University, Prof. Vedi R Hadiz, melontarkan kritik keras terhadap sejumlah program strategis pemerintahan Prabowo Subianto.
Ia mengkritik mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), hingga food estate.
Scholar dengan kredensial tinggi di kajian wilayah itu menilai sederet kebijakan tersebut telah menyedot anggaran APBN yang kelewat boros dan lebih berorientasi pada kepentingan politik ketimbang kesejahteraan masyarakat.
Vedi menilai pelaksanaan berbagai program skala nasional tersebut sangat menguras keuangan negara tanpa memberikan dampak nyata bagi perekonomian warga.
Ia menyoroti persoalan teknis di lapangan, seperti kasus keracunan anak-anak pada program MBG serta indikasi kronisme dalam proyek ketahanan pangan.
“Pemborosan uang untuk program-program yang enggak jelas, kegunaannya buat apa, kecuali buat kepentingan-kepentingan politik mereka aja, tidak buat kesejahteraan rakyat,” ujar Vedi Hadiz dikutip dari Threads, Okyy Madasari.
Ia menambahkan bahwa program MBG sangat dipertanyakan hasilnya, sementara Kopdes Merah Putih dinilai tidak jelas kontribusinya terhadap perputaran roda ekonomi lokal.
Senada dengan Kopdes, proyek food estate justru lebih banyak memelihara kroni bisnis Prabowo ketimbang mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Selain menyoroti efektivitas program pemerintah, Vedi juga menyentil pernyataan anggota Wantimpres Rocky Gerung yang menyebut Presiden Prabowo Subianto menganut dan mengamalkan paham sosialisme dalam kebijakan ekonominya.
Sambil berseloroh, Vedi menyarankan Rocky untuk mempelajari kembali konsep serta teori dasar sosialisme secara mendalam.
“Masalah Rocky Gerung ngomong Prabowo itu menganut dan mengamalkan paham sosialisme, pesan saya Rocky perlu baca lagi tentang sosialisme haha,” tegasnya.
