
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mempertimbangkan untuk tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga. Langkah itu dipertimbangkan agar pasokan gas lebih dulu memenuhi kebutuhan dalam negeri di tengah kondisi global yang dinilai menuntut Indonesia bertahan.
Bahlil menyampaikan hal tersebut di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026) malam. Ia menegaskan, Indonesia saat ini berada dalam mode survival atau bertahan.
“Jadi, kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga,” kata Bahlil.
Menurut dia, kementerian-kementerian lain juga akan menerjemahkan situasi tersebut ke dalam kebijakan masing-masing. Terlebih, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan penghematan besar-besaran terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bahlil mengatakan, setiap kementerian perlu mengimplementasikan arahan Presiden untuk menghadapi kondisi yang ada.
“Apa yang disampaikan Bapak Presiden, semua kementerian mampu menjabarkan dalam konteks implementasi program untuk menuju pada survival,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyoroti perubahan kondisi geopolitik dunia yang dinilainya semakin bertumpu pada kekuatan. Menurut Prabowo, tatanan internasional atau international order seolah tidak lagi berlaku
Baca Juga: Buruh Minta UMP 2027 Naik 7,5-9,5 Persen, Ketum Kadin Bahas Produktivitas Pekerja
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
“Siapa yang kuat dia akan survive, yang tidak kuat kita lihat apa yang terjadi di Timur Tengah, di mana-mana, yang tidak kuat akan punah,” ujar Prabowo.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Prabowo menekankan pentingnya politik persatuan nasional. Pesan itu disampaikan di tengah pandangannya bahwa negara harus memperkuat kemampuan bertahan menghadapi dinamika global.
