
Anggota parlemen Malaysia dari Partai Bersatu, Kalam Salan, menyoroti persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Ia menyampaikan kritik tersebut menggunakan bahasa Jawa dalam sidang parlemen Malaysia, Rabu (21/10/2026).
Kalam, yang mewakili daerah pemilihan Sabak Bernam, secara khusus menyampaikan pesan kepada Presiden RI Prabowo Subianto.
Ia berharap penggunaan bahasa Jawa dapat membantu pesannya lebih mudah dipahami oleh para pemangku kepentingan di Indonesia.
Sebelum membacakan pernyataannya, Kalam meminta izin kepada majelis untuk berbicara dalam bahasa Jawa. Ia beralasan banyak masyarakat di Indonesia yang tidak memahami bahasa Melayu.
Dalam pidatonya, Kalam mengeluhkan kabut asap yang menurutnya berulang kali melanda Malaysia selama sekitar satu dekade akibat kebakaran hutan di Indonesia.
“Assalamualaikum, Pak Prabowo. Pripun kabare? Paringi waras, nggih. Kulo arep ngomong soal kabut asap sing saben tahun kok meneh songko Indonesia nganti Malaysia. (Assalamualaikum, Pak Prabowo. Bagaimana kabarnya? Semoga Bapak selalu sehat. Saya ingin berbicara tentang masalah kabut asap yang sudah berulang kali melanda Malaysia selama sepuluh tahun terakhir akibat kebakaran hutan di Indonesia),” ucap Kalam saat memulai pidatonya dalam bahasa Jawa.
Guna Bahasa Jawa Biar Prabowo Faham, Ahli Parlimen Sabak Bernam Tegur Isu Jerebu OLEH MYNEWSHUB KUALA LUMPUR: Ahli Parlimen Sabak Bernam, Kalam Salan menggunakan bahasa Jawa ketika menyampaikan pesanan kepada Presiden Indonesia, Prabowo Subianto supaya mengambil tindakan segera menangani masalah jerebu rentas sempadan. Beliau berbuat demikian ketika membahaskan Rang Undang-Undang Perbekalan 2027 di Dewan Rakyat pada Rabu, 21 Oktober, dengan mengulangi sebahagian pesanannya daripada bahasa Melayu kepada bahasa Jawa. Kalam, yang berketurunan Jawa, terlebih dahulu menyindir bahawa kepimpinan di negara jiran mungkin tidak memahami bahasa Melayu sebelum meminta izin Dewan untuk menggunakan bahasa berkenaan. Pesanan itu diakhiri dengan ungkapan “Kulo matur suwun, Bapak Presiden”, yang bermaksud beliau mengucapkan terima kasih kepada Presiden Indonesia. “Harap-harap mereka faham,” katanya selepas menyampaikan pesanan tersebut. Inti pati ucapannya ialah desakan supaya kebakaran dipadamkan segera, pembakaran dihentikan dan langkah pencegahan dilaksanakan agar rakyat kedua-dua negara tidak terus berdepan masalah sama setiap tahun. Beliau turut menyuarakan hasrat supaya rakyat Malaysia dan Indonesia dapat menikmati udara bersih, langit cerah serta kehidupan yang sihat dan aman. Menurut Kalam, kesan jerebu turut dirasai pekerja Indonesia yang mencari rezeki di Malaysia, khususnya di sektor perladangan. Apabila keadaan berasap menghalang mereka bekerja, pendapatan turut terjejas, sekali gus menyukarkan mereka menghantar wang kepada keluarga di Indonesia. Beliau juga membangkitkan masalah kesihatan, gangguan persekolahan dan kesan terhadap pelancongan akibat jerebu. Dalam nada menyindir, Kalam mempersoalkan kenyataan mengenai hutan Indonesia yang membekalkan oksigen kepada Malaysia dengan bertanya sama ada pokok di negara ini diperbuat daripada plastik sehingga tidak mampu menghasilkan oksigen sendiri. Beliau menegaskan isu yang menjejaskan kesihatan serta kehidupan orang ramai itu perlu ditangani secara serius. Selain teguran kepada Prabowo, Kalam menggesa tindakan bersama ASEAN diperkukuh melalui penguatkuasaan serantau, pemantauan titik panas menggunakan satelit dan penubuhan pasukan kecemasan bagi menangani kebakaran. Beliau turut mencadangkan mekanisme pertanggungjawaban yang lebih berkesan serta dana serantau untuk pencegahan kebakaran, pemulihan tanah gambut dan bantuan kepada masyarakat terjejas. — Mynewshub
— MYNEWSHUB (@mynewshub) October 22, 2026
Ia menggambarkan dampak kabut asap terhadap kehidupan masyarakat Malaysia, mulai dari gangguan pernapasan, batuk, sakit tenggorokan, hingga sesak napas.
Aktivitas pendidikan juga terganggu karena sekolah terpaksa ditutup, sementara sektor pariwisata mengalami penurunan aktivitas.
Pekerja perkebunan turut merasakan dampaknya karena kondisi asap menghambat mereka bekerja dan memperoleh penghasilan.
Baca Juga: Singapura-Malaysia Soroti Karhutla Indonesia, Wantimpres Jonan: Jangan Cuma Melontarkan Kritik
Kalam menegaskan bahwa warga Indonesia yang bekerja di perkebunan Malaysia juga menjadi korban.
Mereka kehilangan kesempatan mencari nafkah, padahal penghasilan tersebut dibutuhkan untuk menghidupi keluarga dan mengirim uang kepada kerabat di Indonesia.
“Sing susah ora mung wong Malaysia, Pak (Yang susah bukan hanya orang Malaysia, Pak),” ujar Kalam dalam bahasa Jawa, yang berarti bahwa masyarakat Malaysia bukan satu-satunya pihak yang menderita akibat kabut asap.
Ia juga menyindir pernyataan pejabat Indonesia yang dinilainya meremehkan persoalan tersebut dengan menyebut hutan Indonesia selama ini turut memasok oksigen bagi Malaysia.
Menurut Kalam, masalah kabut asap lintas batas tidak semestinya dijadikan bahan lelucon. Ia mempertanyakan anggapan tersebut dengan menyindir apakah pohon-pohon di Malaysia terbuat dari plastik sehingga tidak dapat menghasilkan oksigen sendiri.
“Mula, aja malah iki digawe guyonan, digawe lucuan, ngomong, nek alas Indonesia wis ngirim oksigen kanggo Malaysia. Lah, alas Malaysia kuwi opo? Ngasilno plastik? Ora iso ngasilke oksigen? (Makanya, jangan dibuat guyon, jangan dibuat lelucon. [Ada pejabat yang bilang] huta Indonesia mengirim ogisgen untuk Malaysia. Lah hutan Malaysia itu apa? Menghasilkan plastik, tidak bisa menghasilkan oksigen?)” ucap Kalam.
Sebelumnya, seperti dikutip The New Straits Times, Kalam juga mendorong pemerintah Malaysia menempuh jalur diplomatik untuk mendesak Filipina, yang menjabat ketua ASEAN tahun ini, agar mengambil langkah regional yang lebih tegas dalam menangani kabut asap lintas batas.
Ia mengakui pemerintah Malaysia telah menjalankan sejumlah langkah yang pernah diusulkannya.
Namun, menurut Kalam, masyarakat masih menghadapi dampak kabut asap yang meluas dan memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
