
Peta kekuatan politik nasional menjelang kontestasi kepemimpinan masa depan mulai menunjukkan dinamika yang tidak terduga. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) membongkar kerentanan posisi petahana, yang terekam sangat loyo dan tertinggal jauh dari figur-figur potensial lainnya, termasuk dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Survei 1 hingga 10 Oktober 2026 melakukan pengujian elektabilitas melalui simulasi banyak nama. Hasilnya cukup mengejutkan publik, di mana gubernur itu bertengger di posisi puncak dengan raihan angka elektabilitas sebesar 35,5 persen. Angka dukungan yang sangat masif terhadap mantan bupati tersebut mengungguli Presiden Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Bantah Anti-Asing: Apa Yang Mereka Minta Sebagian Besar Saya Ikuti
Direktur Saiful Mujani Research and Consulting, Deni Irvani mengatakan bahwa jika sang gubernur yang notabene memiliki kedekatan koalisi politik dengan petahana, memutuskan untuk tidak maju dalam bursa pencalonan, hasilnya adalah suara tersebut tidak otomatis akan terkonsolidasi ke Prabowo
“Meskipun Dedi Mulyadi tidak maju karena berasal dari partai yang sama dengan presiden, dia tetap lemah, tidak berhasil menarik elektabilitas Dedi Mulyadi,” urai Deni Irvani dikutip, Kamis (22/10/2026).
Pernyataan Deni tersebut menyoroti krisis daya tarik (coattail effect) petahana di mata pemilih rasional. Kegagalan Prabowo dalam menyerap limpahan suara (spillover) dari kandidat lain di lingkarannya sendiri mengindikasikan adanya keengganan dari basis massa untuk kembali memberikan mandat.
Kegagalan Prabowo sendiri ditengarai sangat erat kaitannya dengan persepsi publik terhadap kinerja pemerintahan dalam dua tahun terakhir yang terus disorot akibat kelesuan ekonomi dan berbagai polemik politik di tingkat elite.
Survei ini memberikan alarm peringatan yang sangat serius bagi kubu petahana. Absennya figur dominan dalam simulasi bursa pencalonan ternyata tidak secara serta-merta memberikan karpet merah bagi Prabowo.
Baca Juga: PDIP Heran Senayan Hening Soal Polemik Ijazah Gibran: Dulu Bersumpah Kepada Tuhan, Bukan Manusia
SMRC membuktikan bahwa preferensi politik masyarakat saat ini jauh lebih cair dan tidak lagi terikat pada garis komando partai maupun loyalitas buta. Ketidakmampuan Prabowo menambal kelemahan elektoralnya meski tanpa kompetitor se-kandang ini menjadi sinyalemen kuat bahwa masyarakat tengah mencari sosok alternatif baru untuk masa depan kepemimpinan nasional.
