
Nilai tukar rupiah di pasar spot tertekan di awal perdagangan hari ini. Kamis (22/10/2026). Rupiah dibuka di level Rp18.035 per dolar Amerika Serikat (AS) membuat rupiah melemah 0,07% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 18.022 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan perdagangan rupiah hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang Rp18.020 – Rp18.070. Sedangkan perdagangan dalam minggu ini di rentang Rp17.850 – Rp18.200.
Dia menyampaikan pergerakan rupiah hari ini terjadi usai kebijakan Bank Indonesia. Bank sentral memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.
“Dengan demikian, BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan beruntun. Bank sentral sebelumnya juga mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% pada RDG Agustus 2026,” kata dia kepada wartawan.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kemenkeu optimistis defisit APBN 2026 akan tetap di bawah batas 3% terhadap PDB meski terdapat risiko kenaikan imbal hasil atau yield SBN hingga harga minyak dunia. Otoritas fiskal setidaknya memproyeksikan level defisit tetap berada sesuai outlook pertengahan tahun, yakni 2,85% terhadap PDB.
Deviasi kedua asumsi dasar ekonomi makro ini dapat berefek pada pergeseran postur APBN, baik pendapatan, belanja serta defisit. Untuk tingkat imbal hasil SBN, salah satu hal yang diwaspadai adalah efek sentimen negatif penilaian terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Baca Juga: Rupiah Jatuh Rp18.000, BI Perkuat Insentif Tarik Modal Asing
Baca Juga: Rupiah Dibuka Stagnan di Rp17.992/USD, Berpotensi Melemah Tertekan Sentimen Pasar
Apabila merujuk pada outlook APBN pertengahan 2026, pemerintah memproyeksikan defisit fiskal melebar dari target Rp689,1 triliun (2,68% PDB) ke Rp734,3 triliun (2,85% PDB). Proyeksi defisit ini turut dirancang dengan peningkatan imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun dari target APBN 6,9% ke kisaran sampai 7,1%.
Kemenkeu optimistis defisit APBN masih akan sesuai dengan outlook 2,85% karena sejumlah asumsi makro juga masih dalam sasaran. Contohnya, pertumbuhan ekonomi masih pada kisaran 5,4% sampai 5,6% serta inflasi 2,5±1% sebagaimana juga yang ditargetkan Bank Indonesia (BI).
