
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie menyarankan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk meninggalkan aktivitas yang berorientasi pada pencitraan politik dan lebih fokus membenahi manajemen pemerintahan.
Menurut Jimly, Gibran memiliki peran penting untuk memperkuat koordinasi antarkementerian dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto.
Dalam perbincangan di siniar Total Politik, Jimly menyampaikan saran tersebut saat ditanya mengenai langkah yang sebaiknya diambil Gibran di tengah berbagai sorotan politik.
“Saya sarankan dia tidak usah main politik pencitraan. Misalnya datang ke mana-mana, lihat gorong-gorong, lihat kesedihan rakyat. Itu akan dianalisa orang, ‘Waduh, main politik, dia sudah mempersiapkan diri untuk 2029 dan sebagainya’,” urai Jimly.
Pakar Hukum Tata Negara itu menilai aktivitas blusukan yang berpotensi dipersepsikan sebagai upaya membangun citra politik sebaiknya tidak menjadi fokus utama Gibran. Ia justru melihat adanya persoalan manajerial dalam pemerintahan yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Jimly menyoroti jumlah Menteri Koordinator (Menko) yang bertambah dari tujuh menjadi delapan. Menurut dia, banyaknya koordinator justru berpotensi menghambat koordinasi dalam pelaksanaan tugas pemerintahan.
“Salah satu hal yang menjadi kekurangan dalam pemerintahan ini adalah manajemen koordinatornya yang kebanyakan. Dalam hukum besi organisasi, makin banyak koordinator, makin tidak ada koordinasi. Nah, padahal ada hal yang tidak ada yang mengerjakan, yaitu manajemen pemerintahan,” papar Jimly.
Ia menilai Gibran dapat mengambil peran lebih besar untuk menyelaraskan kerja para Menko dan memperbaiki koordinasi antarkementerian. Dalam pandangannya, wakil presiden memiliki posisi strategis untuk membantu Presiden mengelola pemerintahan.
Jimly juga menyoroti isu pemakzulan (impeachment) yang belakangan diarahkan kepada Gibran. Ia menyarankan agar wakil presiden tidak bereaksi berlebihan terhadap wacana tersebut dan tetap menghormati proses konstitusional.
“Apapun keputusan DPR, keputusan MK, diterima saja. Kalau ditanya (soal isu impeachment), bilang saja ‘Oke enggak apa-apa, saya tunggu saja’. Selesai itu, enggak usah dilawan. ‘Monggo, silakan saya tunggu’, begitu,” pungkas Jimly.
Menurut Jimly, Gibran sebaiknya menunjukkan kinerja melalui peran nyata dalam pengelolaan pemerintahan. Dengan begitu, perhatian publik dapat diarahkan pada pelaksanaan tugasnya sebagai wakil presiden, bukan semata-mata pada aktivitas yang berpotensi dinilai sebagai pencitraan politik.
