
KORAN MANDALA – Aksi unjuk rasa memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Kota Bandung diwarnai aksi vandalisme, pembakaran water barrier, hingga pembakaran properti bergambar Prabowo-Gibran, Selasa (20/10/2026).
Ratusan massa yang tergabung dalam sejumlah elemen mahasiswa, komunitas, dan masyarakat sipil menggelar aksi bertajuk “Bubarkan Rezim Fasis, Tegakkan Kedaulatan Rakyat, Cabut Mandat Pemerintah yang Khianat”.
Pantauan Koran Mandala, massa awalnya berkumpul di depan Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, untuk berorasi dan meneriakkan yel-yel sepanjang aksi.
Sekitar pukul 15.18 WIB, massa bergerak melakukan long march ke arah timur Jalan Asia Afrika hingga tiba di kawasan Simpang Lima. Di lokasi tersebut, massa kembali menyampaikan orasi dan menampilkan kesenian benjang.
Aksi kemudian diwarnai vandalisme terhadap Tugu Simpang Lima. Sejumlah massa mencorat-coret bagian tugu dengan tulisan bernada protes, di antaranya “Affan mati dibunuh polisi” dan “Lawan KDM”.

Setelah dari Simpang Lima, massa bergerak menuju kawasan Teras Braga. Sekitar pukul 16.56 WIB, mereka melanjutkan aksi dengan bernyanyi dan berorasi. Massa juga melaksanakan salat Magrib berjemaah di kawasan tersebut.
Situasi kembali memanas ketika sejumlah massa menyalakan petasan sekitar pukul 17.02 WIB. Lima menit berselang, massa membakar barier serta properti bergambar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Sejumlah aparat kepolisian tampak melakukan pengamanan di sekitar lokasi aksi. Hingga pukul 18.35 WIB, massa mulai membubarkan diri dan meninggalkan kawasan Braga.
Sebelumnya, Koordinator Media Aksi, Ezra Al Bara, menjelaskan pemilihan Jalan Asia Afrika, Braga, dan Cikapundung sebagai titik aksi bertujuan membuka ruang partisipasi bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Menurut Ezra, massa juga mengajak warga yang melintas untuk membunyikan klakson sebagai bentuk solidaritas terhadap keresahan atas kondisi negara.
Ia menyebut aksi tersebut sebagai simbol ketidakpercayaan terhadap pemerintah. Massa, kata dia, berencana terus menggelar aksi meskipun tuntutan yang disampaikan tidak mendapat respons dari pemerintahan
“Kami yakin masyarakat sudah kesal, marah, dan resah. Namun, belum semuanya cukup berani untuk turun ke jalan bersama kami,” kata Ezra Selasa (20/10/2026)
Ia berharap aksi tersebut dapat memperkuat solidaritas masyarakat Kota Bandung sekaligus mendorong lebih banyak warga berani menyampaikan keresahan mereka kepada pemerintah.
Ezra menegaskan, aksi pada Selasa tersebut baru menjadi permulaan. Massa berencana kembali turun ke jalan dengan jumlah peserta yang lebih besar untuk menyuarakan tuntutan mereka.
“Ini hanyalah permulaan. Nanti kita akan turun kembali. Yang awalnya satu akan berlipat ganda menjadi dua, berlipat ganda, terus berlipat ganda hingga satu Kota Bandung menunjukkan amarah, kekesalan, serta kemuakannya terhadap rezim ini,” tutupnya
