
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sebesar Rp3.923,2 triliun selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terhitung sejak Oktober 2024 hingga September 2026. Capaian tersebut setara dengan 30,1% dari kebutuhan investasi nasional periode 2025–2029 sebesar Rp13.032,8 triliun.
“Penyerapan tenaga kerjanya 5.485.944 orang. Kontribusi Jawa 48,2% atau Rp1.892,2 triliun, dan luar Jawa 51,8% atau Rp2.031,0 triliun”, jelas Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Rosan menyampaikan, capaian tersebut mencerminkan peran investasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperluas kesempatan kerja dan mendorong pemerataan pembangunan di berbagai daerah.
Dari sisi komposisi, realisasi investasi selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp1.998,7 triliun atau 50,9%, serta penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp1.924,5 triliun atau 49,1%.
Investasi Januari–September 2026 Tumbuh 7,3%
Sejalan dengan capaian tersebut, realisasi investasi sepanjang Januari–September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun, tumbuh 7,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Realisasi ini telah memenuhi 75,4% dari target investasi tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
“Tentunya kita harus senantiasa jemput bola, mendengarkan masukan agar iklim investasi dan industri kita meningkat. Karena memang yang kita inginkan dari investasi dan hilirisasi yang masuk adalah ujungnya industrialisasi,” ujar Menteri Rosan.
Capaian investasi selama sembilan bulan pertama tahun 2026 juga mencatat penyerapan tenaga kerja Indonesia sebanyak 2.194.496 orang. Dari total realisasi investasi tersebut, PMA berkontribusi sebesar Rp777,8 triliun atau 50,5%, sedangkan PMDN mencapai Rp761,4 triliun atau 49,5%.
Berdasarkan sebaran wilayah, investasi di luar Jawa masih mendominasi dengan realisasi sebesar Rp779,4 triliun atau 50,6%, sementara investasi di Jawa mencapai Rp759,8 triliun atau 49,4%. Capaian ini menunjukkan bahwa aktivitas investasi terus berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Adapun lima provinsi dengan realisasi investasi terbesar sepanjang Januari–September 2026 adalah DKI Jakarta sebesar Rp249,3 triliun, Jawa Barat Rp229,1 triliun, Sulawesi Tengah Rp116,0 triliun, Jawa Timur Rp110,5 triliun, dan Maluku Utara Rp96,0 triliun.
Sementara itu, pada Triwulan III 2026, realisasi investasi mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6% secara tahunan. Capaian tersebut terdiri atas PMA sebesar Rp270,2 triliun dan PMDN sebesar Rp258,5 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 745.634 orang.
Dari sisi wilayah, realisasi investasi Triwulan III 2026 di luar Jawa mencapai Rp271,6 triliun atau 51,4%, sedangkan Jawa sebesar Rp257,1 triliun atau 48,6%. Pertumbuhan investasi di Jawa tercatat sebesar 13,9% secara tahunan, sementara luar Jawa tumbuh 2,2%.
Hilirisasi Masih Jadi Mesin Penggerak
Selain pertumbuhan investasi secara keseluruhan, hilirisasi terus menunjukkan perkembangan positif sebagai salah satu penggerak investasi nasional. Sepanjang Januari–September 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp480,0 triliun, tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan berkontribusi sebesar 31,2% terhadap total realisasi investasi nasional.
Investasi hilirisasi tersebut didominasi sektor mineral dengan realisasi sebesar Rp335,1 triliun, yang mencakup komoditas nikel sebesar Rp118,9 triliun, bauksit Rp115,7 triliun, besi baja Rp40,8 triliun, tembaga Rp39,5 triliun, serta pasir silika Rp7,0 triliun.
“Kalau kami melihat trennya, tahun 2024 kontribusi hilirisasi itu 26%, di tahun ini (2026) triwulan ketiga itu sudah 34%, walaupun dari Januari ke September itu kontribusinya 31%. Tentunya kita akan tetap mendorong agar investasi ini terus meningkat menjadi investasi yang berkualitas dan juga bisa memberikan dampak yang positif seperti penyerapan tenaga kerja”, papar Rosan.
Di luar sektor mineral, realisasi investasi hilirisasi pada Januari – September 2026 juga mencakup sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp83,6 triliun, minyak dan gas bumi Rp54,0 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp7,3 triliun. Capaian ini menggambarkan semakin luasnya pengembangan hilirisasi pada berbagai komoditas potensial Indonesia.
Dari sisi persebaran wilayah, sebanyak 78% investasi hilirisasi atau senilai Rp373,1 triliun terealisasi di luar Jawa. Lima provinsi dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar adalah Sulawesi Tengah sebesar Rp100,4 triliun, Maluku Utara Rp84,1 triliun, Jawa Barat Rp36,9 triliun, Kalimantan Barat Rp35,4 triliun, dan Sulawesi Tenggara Rp27,9 triliun.
Pada Triwulan III 2026, investasi hilirisasi mencapai Rp179,9 triliun, meningkat 19,4% secara tahunan. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa hilirisasi semakin berperan dalam mendorong peningkatan nilai tambah komoditas di dalam negeri.
Kepercayaan Investor Asing Tetap Terjaga
Dari sisi asal negara, Singapura menjadi penyumbang PMA terbesar sepanjang Januari–September 2026 dengan realisasi USD14,0 miliar atau 29,6% dari total PMA. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong, RRT sebesar USD12,8 miliar, Republik Rakyat Tiongkok USD5,0 miliar, Amerika Serikat USD3,4 miliar, dan Jepang USD2,6 miliar.
Kelima negara tersebut secara keseluruhan berkontribusi sebesar 80,0% terhadap total realisasi investasi asing di Indonesia selama sembilan bulan pertama tahun 2026.
Capaian investasi selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo menjadi landasan untuk terus memperkuat iklim investasi nasional, mempercepat pengembangan hilirisasi, dan meningkatkan kualitas investasi agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
