Monday, October 19News That Matters

Siswa Tidak Naik Kelas Rentan Diejek, Sekolah Diminta Siapkan Pendampingan


KORAN MANDALA – Siswa yang tidak naik kelas berisiko menghadapi tekanan sosial di lingkungan sekolah, terutama ketika kondisi tersebut menjadi bahan ejekan teman sebaya.

Karena itu, sekolah perlu menyiapkan pendampingan agar siswa dapat beradaptasi tanpa harus menghadapi stigma negatif.

Pakar Psikologi Komunikasi dari Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Almadina Rakhmaniar, mengatakan, pencegahan perundungan terhadap siswa yang tidak naik kelas perlu dilakukan dengan mengutamakan kerahasiaan, empati, dan pendampingan sosial.

“Pencegahan yang efektif tentu harus fokus pada kerahasiaan, empati, dan juga pengalihan relasi. Sekolah harus bisa membuat keputusan yang disampaikan dengan personal kepada orang tua dan anak, tidak diumumkan secara terbuka,” kata Almadina saat dihubungi Koran Mandala Senin, (19/10/2026)

Selain itu, sekolah perlu memfasilitasi transisi sosial ketika siswa memasuki kelas baru. Guru bimbingan konseling (BK) maupun wali kelas dapat berperan dalam membantu proses adaptasi sekaligus mengawasi dinamika pergaulan di kelas.

Almadina juga menilai, sekolah perlu membangun budaya yang menghargai perbedaan kemampuan belajar setiap anak. Sebab, kesulitan akademik pada satu fase pendidikan tidak seharusnya menjadi alasan bagi siswa lain untuk merendahkan temannya.

“Dan juga harus ada budaya sekolah yang menekankan bahwa kecepatan belajar setiap anak itu tentu berbeda, sehingga ketika anak mengalami kegagalan di satu fase tertentu, tidak bisa juga dijadikan bahan cemoohan,” ujarnya.

Di sisi lain, orang tua juga memiliki peran penting dalam mendampingi anak menghadapi kekecewaan akibat tidak naik kelas. Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaannya tanpa menambah tekanan melalui amarah atau kekecewaan berlebihan.

Almadina menekankan, penerimaan terhadap emosi anak menjadi hal penting agar mereka merasa dipahami ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan.

“Jadi tidak perlu merespons berita tidak naik kelas ini dengan amarah ataupun kekecewaan yang begitu dalam di depan anak. Memvalidasi rasa sedih anak itu lebih penting,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar hasil akademik tidak dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kemampuan dan kepribadian anak. Siswa yang mengalami kesulitan dalam pelajaran tetap memiliki potensi yang dapat dikembangkan di bidang lain.

“Jadi tekankan pada anak-anak yang tidak lulus bahwa artinya secara akademik mungkin dia kurang, tapi kepribadian itu belum tentu, karena bisa saja dia punya potensi di bidang lainnya,” jelas Almadina.

Karena itu, orang tua perlu membantu anak menyusun strategi belajar baru sekaligus menghindari stigma negatif yang dapat memengaruhi kepercayaan dirinya.

Pendampingan dari sekolah dan keluarga diharapkan dapat membantu siswa melewati kegagalan akademik dengan lebih baik, tanpa harus menghadapi tekanan sosial yang dapat menghambat proses belajar dan perkembangannya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *