
Polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) belum mereda. Di tengah berbagai kontroversi yang terus menyeret namanya, kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedy Nur Palakka menyatakan keyakinannya bahwa dukungan masyarakat terhadap Jokowi akan tetap bertahan.
Dedy bahkan menilai reputasi Jokowi tidak mudah digoyahkan hanya melalui isu ijazah.
“Ini yang bikin reputasi beliau tidak bisa diobrak-abrik hanya dengan isu ijazah di mana yang paling bising atas itu ternyata banyak masalah juga,” tulisnya di akun X, dikutip Senin (19/10/2026).
Baca Juga: Relawan Jokowi: Kita Punya Keyakinan Roy Suryo akan Masuk di Penjara
Ia kemudian menegaskan keyakinannya terhadap dukungan masyarakat kepada Jokowi. Dedy juga mengaitkan dukungan tersebut dengan kedekatan politik Jokowi dan PSI.
“Rakyat jelas akan terus berdiri bersama Jokowi,” ujarnya.
“Apalagi saat ini rakyat sudah tau kalau Jokowi adalah bagian yang tidak terpisah dengan PSI, semakin paten lagi,” imbuhnya.
Pernyataan Dedy tersebut merespons unggahan akun X @LambeSahamjja yang mengulas sejumlah alasan Jokowi dinilai masih diterima masyarakat meski kerap menghadapi kontroversi. Unggahan itu menyoroti gaya kepemimpinan Jokowi yang dianggap dekat dengan warga, mulai dari kebiasaan blusukan hingga interaksi langsung dengan masyarakat.
“Dekat dengan rakyat: blusukan, jalan kaki lewat gang dan lumpur, ketuk pintu warga malam hari, bagi bantuan langsung,” ungkap akun X @LambeSahamjja.
Baca Juga: Eksepsi Ditolak, Upaya Roy Suryo Hentikan Sidang Ijazah Jokowi Gagal
Akun tersebut juga menyoroti cara Jokowi membangun suasana santai ketika berinteraksi dengan masyarakat. Momen kuis berhadiah sepeda, candaan mengenai sertifikat tanah yang “disekolahkan”, hingga kebiasaan tertawa bersama warga disebut menjadi bagian dari citra kepemimpinannya.
“Santai dan lucu: kuis bagi sepeda, canda warga soal sertifikat tanah “disekolahkan”, tawa bersama tanpa jarak,” sebutnya.
Kunjungan Jokowi ke Papua turut disinggung dalam unggahan tersebut.
“Sering ke papua: disebut presiden yang paling sering ke sana, joget yospan, gendong anak, rangkul tetua adat,” lanjut akun tersebut.
Selain kedekatan personal, unggahan itu menyinggung sikap Jokowi ketika berada di jalan raya. Gaya pengawalan yang disebut tidak kasar, kebiasaan tidak menerobos kemacetan, serta interaksi dengan warga melalui jendela mobil dinilai turut membentuk persepsi masyarakat terhadap dirinya.
“Tidak arogan di jalan: pengawal tidak kasar, tidak mau jalan dengan menerjang macet, buka kaca mobil bagi kaos dan melambai,” katanya lagi.
Dalam unggahan yang sama, akun itu menggunakan istilah relational power untuk menggambarkan gaya kepemimpinan yang dibangun melalui ikatan emosional dan kepercayaan, bukan paksaan ataupun jarak antara pemimpin dan rakyat.
“Gaya kuasa beda: bukan lewat paksaan atau jarak tapi lewat ikatan perasaan dan rasa percaya (disebut relational power),” sambungnya.
Unggahan tersebut turut membandingkan citra kepemimpinan Jokowi dengan sejumlah presiden sebelumnya. Soekarno digambarkan sebagai sosok megah tetapi jauh dari rakyat, Soeharto dikaitkan dengan rasa takut, sedangkan era reformasi dinilai kaku dan elitis. Dalam perbandingan itu, Jokowi disebut sebagai sosok yang berbeda dari pola sebelumnya.
“Dibanding pemimpin lain: Soekarno dibilang megah tapi jauh, Soeharto lewat rasa takut, era reformasi kaku dan elitis, Jokowi disebut anomali agung,” imbuhnya.
Pada akhirnya, gaya kepemimpinan Jokowi dinilai meninggalkan standar baru mengenai pentingnya pemimpin yang dekat dengan masyarakat.
“Warisan: standar baru pemimpin harus merakyat, pejabat bawah ikut turun ke warga, mencegah kembali ke feodal dan oligarki,” tutup akun tersebut.
