Monday, October 19News That Matters

Dia Merasa Ditinggalkan dalam Keputusan Langkah Besar


Wacana Berita, Jakarta –

Gesekan Eks Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto mulai tercium aromanya, menyusul perubahan sikap yang cukup signifikan dari politiku senior tersebut. Hal ini diduga tidak terlepas dari sikap yang ditunjukkan oleh Prabowo.

Pengamat Komunikasi Politik, Hendri Satrio (Hensa) menyebut perubahan sikap terhadap pemerintahan bukanlah tanpa alasan. Terdapat faktor psikologis dan politis yang saling berkelindan, di mana pemicu utamanya adalah hilangnya akses kontrol sang mantan presiden terhadap jalannya pemerintahan.

Baca Juga: Relawan Jokowi: Kita Punya Keyakinan Roy Suryo akan Masuk di Penjara

Jokowi menurutnya saat ini tengah mengalami fase transisi yang berat setelah satu dekade penuh memegang kendali mutlak atas negara. Sindrom pasca-kekuasaan atau perasaan terisolasi dari pusat kebijakan ditengarai menjadi akar permasalahan merenggangnya relasi antara Solo dan Hambalang.

“Selama sepuluh tahun lebih, dia selalu berada di pusat keputusan politik. Sekarang, kalau ia merasa tidak lagi diajak bicara soal langkah-langkah besar, wajar kalau dia mulai mencari ruang politiknya sendiri,” kata Hensa, dikutip Senin (19/10/2026).

Sebagai figur yang terbiasa menjadi penentu arah (decision maker) dari segala kebijakan strategis bangsa—mulai dari pembangunan infrastruktur raksasa hingga manuver geopolitik—kehilangan privilese tersebut tentu menciptakan kekosongan.

Menurut Hensa, ketika pemerintahan baru mulai menjalankan roda administrasinya sendiri tanpa terlalu banyak melibatkan campur tangan mantan presiden itu, sang mantan kepala negara merasa kehilangan panggung utamanya.

Perasaan tidak lagi dilibatkan dalam membahas arah kapal besar ini pada akhirnya memaksa politikus itu untuk mengambil sikap. Alih-alih menikmati masa pensiunnya dengan tenang yang sering ia sampaikan di penghujung masa jabatannya, realitas politik justru membawanya kembali ke arena.

Menurut Hensa, Jokowi memiliki kebutuhan untuk tetap relevan dan memastikan bahwa pengaruhnya tidak benar-benar hangus. Karenanya, ia kini mulai berhitung ulang mengenai kesetiaannya terhadap koalisi yang sedang berkuasa.

Adapun Jokowi sebelumnya menuding polemik ijazah yang menyeret keluarganya adalah ulah pihak luar yang ingin menjatuhkan nama baik hingga pengaruh politiknya di Indonesia.

Baca Juga: Said Didu Bongkar Pertemuan Jokowi dan Prabowo Jelang Putusan MK: Jokowi Dibuat Menunggu 2 Jam!

“Sekali lagi, ini operasi politik untuk mendowngrade reputasi politik seseorang. Saya sampaikan sejak awal ini ada operasi politik kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi, jadi ramai lagi,” kata Jokowi.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *