
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Indeks anjlok 11,57% ke level 5.185,1, bahkan Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan sementara perdagangan atau trading halt setelah IHSG merosot lebih dari 8% pada awal perdagangan.
Di tengah gejolak tersebut, investor asing menunjukkan pergerakan berbeda pada saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Berdasarkan data Movers yang diperbarui pada Jumat (16/10/2026). GOTO mencatatkan pembelian bersih asing (net foreign buy) sebesar Rp288,32 miliar. Sebaliknya, BBCA menempati posisi teratas dalam daftar saham dengan penjualan bersih asing (net foreign sell) sebesar Rp2,33 triliun.
Perbedaan tersebut menjadi sorotan, ketika pasar saham domestik dilanda aksi jual besar-besaran. Penurunan IHSG pada Jumat dipicu pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengusulkan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Usulan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham dan aktivitas perdagangan di pasar modal Indonesia.
BEI memberlakukan trading halt pada pukul 08.58 WIB setelah IHSG turun 8,01% pada awal perdagangan. Perdagangan kembali dilanjutkan setelah penghentian sementara selama 30 menit. Namun, tekanan jual berlanjut hingga IHSG ditutup melemah 11,57% ke level 5.185,1.
Asing Borong GOTO, Saham Bank Dilepas
Di tengah gejolak pasar tersebut, GOTO menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar dalam daftar yang ditampilkan aplikasi, yakni Rp288,32 miliar. Selain GOTO, investor asing juga mencatatkan pembelian bersih pada PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebesar Rp75,65 miliar dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sebesar Rp58,60 miliar.
Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turut masuk dalam daftar pembelian bersih asing, masing-masing sebesar Rp57,83 miliar dan Rp57,70 miliar. Data tersebut menunjukkan bahwa di tengah tekanan pasar, sejumlah saham masih mencatatkan selisih transaksi beli asing yang positif.
Sebaliknya, tekanan jual asing terlihat pada sejumlah saham perbankan besar. BBCA mencatatkan penjualan bersih asing Rp2,33 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp1,15 triliun dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp868,01 miliar.
Aksi jual asing juga menyasar saham di luar sektor perbankan. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan penjualan bersih Rp137,79 miliar, sedangkan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp90,22 miliar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan jual asing tersebar pada sejumlah saham dari sektor berbeda.
Perbedaan arus dana tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa investor asing memindahkan dananya dari saham perbankan ke GOTO. Net foreign buy dan net foreign sell hanya menggambarkan selisih nilai transaksi beli dan jual asing pada saham tertentu, bukan hubungan langsung antara penjualan satu saham dan pembelian saham lainnya.
Dengan gejolak IHSG dan ketidakpastian terkait usulan MSCI, pergerakan dana asing pada perdagangan selanjutnya menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati. Investor juga perlu memperhatikan pergerakan harga, volume transaksi, serta perkembangan kebijakan dan reformasi pasar modal untuk menilai arah pasar berikutnya.
