
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedek Prayudi, mengibaratkan jalur pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di luar negeri seperti melewati jalan tol.
Analogi itu ia gunakan untuk menjelaskan bahwa proses penyetaraan pendidikan tidak selalu berarti seluruh tahapan yang ditempuh seseorang sama dengan jalur pendidikan formal pada umumnya.
Dedek menilai, perbedaan jalur pendidikan perlu dipahami dengan membedakan konsep penyetaraan dan penyamaan. Menurutnya, pendidikan Gibran memiliki karakteristik tersendiri, mulai dari tahapan yang dilalui hingga dokumen yang diperoleh setelah mengikuti program di luar negeri.
Baca Juga: Ijazah Gibran Dikuliti, Jokowi Duga Ada Operasi Politik untuk Jatuhkan Reputasi
“Mas Gibran pakai jalan tol. Dia sampai ke lantai 1 tadi tapi di tengah-tengahnya itu nggak ada loket pintu tol,” kata Dedek, dikutip Jumat (16/10/2026).
Dedek juga menjelaskan bahwa jalur pendidikan yang disebut pathway tidak bisa langsung disamakan dengan sistem pendidikan formal yang lazim dikenal di Indonesia.
Ia menyebut jalur tersebut merupakan bagian dari sistem pendidikan formal di negara tempat program itu diselenggarakan.
“Apa saya bilang berbeda begini di Indonesia yang formal itu SD, SMP, SMA, kuliah ya. Di sana pathway itu legal, formal, sekolah formal,” jelas dia.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Akui Gibran Punya Keistimewaan: Lampaui Politisi Senior
Atas dasar itu, Dedek menolak anggapan bahwa program pathway seperti yang pernah ditempuh Gibran setara dengan bimbingan belajar atau kursus biasa. Menurutnya, program tersebut memiliki keterkaitan dengan persyaratan untuk memasuki pendidikan formal di tingkat universitas.
“Kalau ada yang bilang ah itu setara bimbel, setara kursus ini nggak mungkin. Kenapa nggak mungkin? Karena nggak mungkin lah dia setara kursus, setara bimbel, sementara dia adalah syarat masuk pendidikan formal yaitu kelasnya Universitas,” terangnya.
