
KORAN MANDALA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi tantangan baru bagi tenaga kerja di Jawa Barat.
Di tengah kekhawatiran sejumlah pekerjaan akan tergantikan teknologi, pekerja dituntut meningkatkan keterampilan dan kreativitas agar tetap mampu bersaing di pasar kerja.
Pengamat Ekonomi Universitas Insan Cendikia Mandiri (UICM) Bandung, Deni Rizky, menilai AI seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
“AI itu sebetulnya bukan ancaman, tapi kita jadikan AI itu adalah peluang. AI itu kan alat, tools, dan dibuat oleh manusia. Jadi kitalah yang sebetulnya lebih pintar dan cerdas dibandingkan AI. Jangan sampai AI jadi bos kita, AI harus jadi asisten atau karyawan kita,” ujar Deni Kamis, (15/10/2026)
Deni menyoroti kondisi ketenagakerjaan di Jawa Barat yang memiliki sebaran tenaga kerja sektor ekonomi kreatif tertinggi di Indonesia.
Namun, tingginya dinamika pemutusan hubungan kerja (PHK) di wilayah tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pekerja untuk meningkatkan kompetensi agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.
Deni mencontohkan, pemanfaatan AI dalam subsektor aplikasi, gim, film, dan animasi telah mempermudah sejumlah proses produksi. Teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan teknis, seperti penulisan kode program, sehingga pekerja dapat lebih berfokus pada pengembangan ide dan kreativitas.
“Sekarang orang membuat game atau aplikasi tidak lagi serumit dulu karena ada AI yang membantu coding. Pembuatan film animasi juga makin menarik. Namun masyarakat menonton bukan hanya karena kualitas visual AI, melainkan karena alur cerita yang lahir dari kreativitas manusia,” jelasnya.
Tenaga Kerja Harus Siap Beradaptasi
Deni menilai, kekhawatiran terhadap hilangnya sejumlah pekerjaan akibat perkembangan AI perlu diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja mempelajari keterampilan baru.
Ia menyebut perubahan tersebut sebagai bagian dari siklus adaptasi ekonomi atau creative destruction, ketika kemunculan teknologi baru mengubah cara kerja dan mendorong terbentuknya jenis pekerjaan berbeda.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kemampuan berpikir kritis dan kreativitas dalam menggunakan teknologi. Ketergantungan penuh terhadap AI justru berisiko membuat pekerja kehilangan kemampuan menganalisis persoalan dan memahami substansi pekerjaannya.
“Di kelas saya selalu menyampaikan kepada mahasiswa, AI penting untuk dipahami cara kerjanya sebagai tools. Tapi untuk membuat tugas, skripsi, dan pembelajaran, jangan diserahkan sepenuhnya ke AI. Kalau ketergantungan, kita tidak tahu substansinya dan kreativitas kita akan hilang,” tegasnya.
Menurutnya, kemampuan beradaptasi akan menjadi salah satu faktor penting bagi tenaga kerja untuk mempertahankan relevansi di tengah perubahan industri hingga 2030 dan seterusnya.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari perkembangan teknologi, kecuali jika kita tidak mau belajar dan beradaptasi. Jangan menunggu terpaksa baru mau belajar. Kita harus mengantisipasi perubahan ini agar tetap relevan di dunia kerja dan industri,” tegasnya
