
KORAN MANDALA –Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama Oktober 2026 dengan nilai yang mayoritas turun dibandingkan periode kedua September 2026.
Pemerintah menetapkan harga acuan batu bara berkalori tinggi sebesar US$122,52 per ton. Angka tersebut turun dari US$123,54 per ton pada periode sebelumnya.
Penetapan itu tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 384.K/MB.01/MEM.B/2026. Kebijakan tersebut menjadi acuan harga batu bara untuk periode pertama Oktober 2026.
Harga Batu Bara Berbeda Berdasarkan Nilai Kalori
ESDM menetapkan harga batu bara berdasarkan nilai kalorinya. Pada periode pertama Oktober 2026, tiga dari empat kategori HBA mengalami penurunan, sedangkan satu kategori mencatat kenaikan tipis.
Berikut rincian harga batu bara berdasarkan HBA periode pertama Oktober 2026:
* Batu bara 6.322 kcal/kg GAR: US$122,52 per ton, turun dari US$123,54 per ton.
* Batu bara 5.300 kcal/kg GAR: US$90,60 per ton, turun dari US$93,94 per ton.
* Batu bara 4.100 kcal/kg GAR: US$63,45 per ton, naik dari US$63,17 per ton.
* Batu bara 3.400 kcal/kg GAR: US$43,84 per ton, turun dari US$44,53 per ton.
Data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga batu bara tidak selalu sama pada setiap kategori. Perbedaan nilai kalori menghasilkan harga acuan yang berbeda pula.
Ekspor Batu Bara Indonesia Masih Menghadapi Tekanan
Di tengah perubahan harga acuan, ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut juga menghadapi tantangan. Data pelacakan kapal yang dihimpun SX Coal mencatat volume ekspor pada September 2026 mencapai 36,45 juta metrik ton.
Volume tersebut naik tipis 0,52 persen dibandingkan Agustus 2026. Namun, angka itu masih turun 18,11 persen dibandingkan September 2025.
Kenaikan bulanan tersebut mengakhiri penurunan ekspor selama tiga bulan berturut-turut. Meski demikian, volume ekspor secara tahunan masih menunjukkan pelemahan.
China tetap menjadi tujuan ekspor batu bara terbesar Indonesia pada September 2026 dengan volume 12,42 juta metrik ton. Namun, pengiriman ke negara tersebut turun 15,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan merosot 32,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan pengiriman ke China menjadi salah satu perkembangan penting yang perlu diperhatikan pelaku industri batu bara Indonesia.
Pelaku Industri Perlu Memantau Perubahan Pasar
Perubahan harga acuan dan volume ekspor menunjukkan bahwa industri batu bara Indonesia menghadapi dinamika pasar yang perlu dipantau secara berkala.
Pelaku usaha perlu memperhatikan perkembangan harga acuan, permintaan dari negara tujuan ekspor, serta kondisi pasokan. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi aktivitas perdagangan dan perencanaan bisnis pertambangan.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa HBA tidak selalu sama dengan harga transaksi di pasar internasional. HBA merupakan harga acuan yang pemerintah tetapkan berdasarkan kategori dan periode tertentu.
Dengan memantau perkembangan harga dan perdagangan, pelaku industri dapat memahami arah pasar batu bara Indonesia di tengah perubahan permintaan global.
(fikri syahdan)
