
KORAN MANDALA –Manajemen Persib Bandung terus mengawal penyidikan kasus kekerasan terhadap rombongan Persib Elite Pro Academy (EPA) U-18 di Rest Area KM 360, Batang, Jawa Tengah.
Klub meminta perkara yang dilaporkan melibatkan penganiayaan, perusakan bus, dan dugaan penjarahan barang milik ofisial itu diusut hingga tuntas.
Langkah tersebut ditunjukkan melalui koordinasi manajemen PT Persib Bandung Bermartabat dengan jajaran Polresta Batang pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Enam Poin di Asia, Igor Tolic Bongkar Kunci Persib dan Masalah yang Harus Dibenahi
Pertemuan itu dilakukan untuk mengetahui perkembangan penyidikan sekaligus mendorong agar penanganan perkara berlangsung transparan dan objektif.
Insiden yang terjadi pada Minggu, 11 Oktober 2026, menjadi persoalan serius karena korbannya bukan hanya ofisial, tetapi juga pemain muda yang tengah menjalani pembinaan sepak bola. Kekerasan di luar lapangan seperti ini menempatkan keselamatan pemain dan rombongan tim sebagai persoalan yang tak bisa dianggap sepele.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menegaskan bahwa manajemen tidak ingin kasus tersebut hanya menjadi perhatian sesaat.
“Bagi kami, persoalan ini tidak boleh berhenti menjadi perhatian sesaat. Kami ingin memastikan komunikasi dengan pihak kepolisian terus berjalan dan penanganannya dikawal hingga tuntas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Adhitia.
Ia menambahkan, keselamatan personel, ofisial, dan pemain, termasuk anggota Persib EPA U-18, menjadi perhatian utama klub. Adhitia juga berharap seluruh fakta terungkap secara objektif dan pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab diproses sesuai hukum.
“Kami menghormati proses dan kewenangan aparat penegak hukum dalam menangani perkara ini. Kami berharap seluruh fakta dapat terungkap secara objektif dan pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab dapat diproses sesuai hukum,” katanya.
Polisi Telusuri Pelaku Lain
Dari pihak kepolisian, Kanit 3 Satreskrim Polresta Batang, IPDA Pipin Setyo Utomo, menyampaikan apresiasi atas kedatangan manajemen Persib yang menanyakan perkembangan penyidikan dan memberikan dukungan agar perkara ditangani secara transparan.
Pipin juga meminta Bobotoh maupun pendukung Persija Jakarta untuk menjaga situasi tetap kondusif. Ia mengingatkan agar insiden tersebut tidak memicu provokasi atau tindakan balasan antarsuporter.
“Kami mengimbau pendukung Persib Bandung agar jangan terprovokasi atau terpengaruh dengan adanya kejadian tersebut di Rest Area 360,” ujarnya.
Polisi juga meminta pihak-pihak yang diduga terlibat, termasuk mereka yang belum memenuhi panggilan atau belum menyerahkan diri, untuk kooperatif membantu proses penyidikan. Kepolisian menyatakan masih berupaya menuntaskan perkara dan menemukan pelaku lainnya.
Imbauan tersebut penting agar penanganan kasus tidak berkembang menjadi konflik antarsuporter. Namun, menjaga kondusivitas juga harus berjalan beriringan dengan pengungkapan fakta dan pertanggungjawaban hukum terhadap pihak yang terbukti terlibat.
Keselamatan Pemain Tak Boleh Kalah oleh Rivalitas
Kasus di Rest Area KM 360 kembali menyoroti persoalan keamanan dalam perjalanan tim sepak bola, khususnya kelompok usia muda. Rivalitas antarklub semestinya berlangsung dalam batas kompetisi, bukan berubah menjadi kekerasan yang mengancam keselamatan pemain, ofisial, maupun masyarakat.
Manajemen Persib mengajak Bobotoh tetap tenang, tidak menyebarkan provokasi, dan tidak melakukan tindakan balasan. Dukungan kepada klub, menurut manajemen, harus disalurkan secara positif sembari memberi ruang bagi aparat untuk menjalankan proses hukum.
Kini, perhatian publik tertuju pada perkembangan penyidikan Polresta Batang: sejauh mana rangkaian kejadian dapat diungkap, siapa saja yang terbukti terlibat, serta bagaimana pertanggungjawaban hukum ditegakkan.
Pengusutan yang transparan dan tuntas menjadi penting bukan hanya bagi Persib, melainkan juga untuk memastikan bahwa kekerasan tidak mendapat tempat dalam sepak bola Indonesia.
