
Industri wastra Indonesia memiliki modal besar untuk berkembang, mulai dari ratusan sentra batik dan tenun hingga pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi yang masih terjaga. Namun, kekayaan budaya tersebut belum cukup untuk menjamin keberlanjutan usaha para perajin di tengah persaingan produk tekstil dan perubahan selera konsumen.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indonesia memiliki 465 sentra tenun dan 200 sentra batik. Sementara itu, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36% secara tahunan pada kuartal II 2026. Nilai ekspornya mencapai US$7,18 miliar sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Angka tersebut menunjukkan besarnya ekosistem industri yang dapat menjadi tumpuan pengembangan wastra nasional. Meski demikian, tantangan regenerasi perajin, persaingan dengan produk tekstil bermotif batik, serta kompetisi dengan negara produsen yang memiliki struktur biaya lebih efisien masih perlu diatasi.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai, pengembangan wastra tidak cukup hanya mengandalkan pelestarian motif dan teknik tradisional. Produk berbasis budaya tersebut juga perlu dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar.
“Selain berbagai upaya dalam melestarikan industri wastra nasional, kita harus memastikan bahwa wastra tetap menjadi identitas dan ciri khas dalam pengembangan industri fesyen nasional,” kata Sarmuji dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, kekayaan teknik, motif, material, dan nilai budaya wastra dapat menjadi pembeda produk fesyen Indonesia. Namun, keunggulan tersebut perlu diterjemahkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mampu bersaing secara komersial.
Karena itu, pengembangan desain, diversifikasi produk, penguatan merek, hingga strategi pemasaran menjadi bagian penting dalam memperluas pasar wastra. Tanpa inovasi, produk yang memiliki nilai budaya tinggi berisiko kesulitan mengikuti perubahan tren dan kebutuhan konsumen.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah mempertemukan pelaku industri wastra dengan sektor lain agar terbuka peluang kolaborasi dan pemasaran.
Pendekatan tersebut terlihat dalam kegiatan Journey of Wastra yang diselenggarakan Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) bersama Discovery Kartika Plaza Hotel di Badung, Bali, pada 2 Oktober 2026.
Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Batik Nasional itu menghadirkan diskusi desain, peragaan busana, pasar produk lokal, hingga demonstrasi membatik. Sejumlah industri kecil dan menengah (IKM) binaan BPIFK turut menampilkan produk fesyen dan kriya berbasis wastra.
Reni menyebut kegiatan tersebut sebagai ruang pertemuan bagi pelaku industri, desainer, akademisi, dan masyarakat untuk bertukar pengetahuan, memperluas jejaring usaha, serta membuka peluang akses pasar.
“Tantangannya adalah bagaimana kekuatan identitas dan nilai budaya tersebut dapat diterjemahkan melalui desain menjadi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen,” ujarnya.
Keterlibatan sektor perhotelan juga menjadi salah satu cara memperkenalkan produk wastra kepada konsumen di luar pasar konvensional. Hotel yang berinteraksi dengan wisatawan domestik maupun mancanegara berpotensi menjadi ruang promosi bagi produk fesyen dan kriya lokal.
Kepala BPIFK Dickie Sulistya Apriliyanto mengatakan, kolaborasi dengan sektor swasta dapat membantu memperluas apresiasi terhadap wastra Indonesia.
“Keterlibatan Discovery Kartika Plaza Hotel dalam Journey of Wastra menjadi salah satu bentuk dukungan sektor perhotelan dalam menghadirkan wastra sebagai bagian dari pengalaman kreatif dan budaya yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan,” kata Dickie.
Dalam kegiatan tersebut, peragaan busana menampilkan karya Tjok Abi, Duabe by Padmi, serta IKM binaan BPIFK, seperti Kekean, Kominela, Geokraft Bag, Suwari Loka, Sekar Bali Jewelry, dan TSDC Bag.
Baca Juga: Menperin Sarmuji Terima Keluhan Industri Pangan dan Baja, Ini Masalahnya
Baca Juga: Menperin Ungkap Rencana Akuisisi Perusahaan Tekstil oleh Danantara
Baca Juga: Menperin Dorong Ulos Naik Kelas, Peluang Bisnisnya Tak Boleh Berhenti di Kain Tradisional
Sementara itu, pop-up market menghadirkan produk dari sejumlah pelaku usaha, antara lain Theacastor, Tinizhop, Suwari Loka, Enigma, Sekar Bali Jewelry, AUM Healthy Apparel, dan Lotta Terra. Pengunjung juga dapat mengikuti demonstrasi mencanting untuk mengenal proses pembuatan batik.
General Manager Discovery Kartika Plaza Hotel Luis Daniel Garcia mengatakan, kegiatan tersebut menjadi wadah untuk mempertemukan desainer, perajin, dan pelaku industri sekaligus memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada masyarakat masa kini.
Meski demikian, perluasan promosi melalui sektor pariwisata perlu diikuti dengan penguatan aspek bisnis agar manfaatnya tidak berhenti pada eksposur produk. Akses terhadap pembeli, kesinambungan pesanan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar menjadi faktor penting agar kolaborasi lintas sektor dapat memberikan dampak nyata bagi pelaku IKM.
Bagi industri wastra, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan kekayaan motif dan teknik tradisional, melainkan memastikan keahlian para perajin tetap diwariskan dan produk yang mereka hasilkan memiliki peluang untuk berkembang sebagai usaha yang berkelanjutan.
