Wednesday, October 14News That Matters

Penjualan Aion Turun 60%, Kalah Bersaing atau Sekadar Koreksi Bulanan?


Wacana Berita, Jakarta –

Penjualan mobil listrik Aion di Indonesia merosot hampir 60% pada September 2026. Penurunan ini jauh lebih dalam dibandingkan koreksi pasar mobil nasional, tetapi belum cukup untuk memastikan apakah Aion mulai kehilangan daya saing atau hanya mengalami fluktuasi penjualan bulanan.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan ritel Aion turun dari 1.001 unit pada Agustus menjadi 404 unit pada September 2026. Dengan demikian, penjualan merek mobil listrik tersebut berkurang 597 unit atau 59,64% dalam satu bulan.

Penurunan Aion terjadi ketika pasar mobil nasional juga mengalami koreksi. Penjualan ritel seluruh merek turun 2,6%, dari 83.421 unit pada Agustus menjadi 81.243 unit pada September.

Meski sama-sama mencatat penurunan, kontraksi penjualan Aion jauh lebih dalam daripada pasar secara keseluruhan. Perbedaan tersebut membuat kinerja Aion menarik untuk dicermati di tengah persaingan produsen kendaraan listrik yang semakin ramai di Indonesia.

Namun, data satu bulan belum dapat menjelaskan penyebab penurunan tersebut. Untuk mengetahui apakah Aion kehilangan daya saing, diperlukan data tambahan mengenai penjualan kumulatif, kinerja model, serta perkembangan pangsa pasar kendaraan listrik.

Penjualan Merek Mobil China Juga Terkoreksi

Penurunan penjualan tidak hanya dialami Aion. Sejumlah merek otomotif asal China lainnya juga mencatat koreksi penjualan ritel pada September 2026.

Chery, misalnya, membukukan penjualan 466 unit pada September, turun dari 768 unit pada Agustus. Penjualannya berkurang 302 unit atau sekitar 39,32%.

Geely juga mengalami penurunan dari 2.158 unit menjadi 2.023 unit. Angka tersebut mencerminkan koreksi sekitar 6,26% dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski demikian, data tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi pasar mobil listrik. Angka penjualan Chery dan Geely yang digunakan di sini merupakan penjualan merek secara keseluruhan, bukan khusus kendaraan listrik. Karena itu, perbandingan tersebut hanya menunjukkan bahwa koreksi juga terjadi pada sejumlah merek otomotif asal China.

Perbedaan besarnya penurunan antarmerek juga memperlihatkan bahwa kinerja produsen tidak selalu bergerak searah. Faktor seperti komposisi model, ketersediaan kendaraan, waktu distribusi, dan program pemasaran perlu diperiksa sebelum penyebab penurunan dapat ditentukan.

Persaingan Mobil Listrik Perlu Dicermati

Bagi Aion, penurunan penjualan pada September menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi posisinya di pasar kendaraan listrik Indonesia.

Persaingan di segmen ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah merek yang tersedia. Pilihan model, harga kendaraan, biaya kepemilikan, jaringan layanan purnajual, serta ketersediaan stasiun pengisian daya juga menjadi pertimbangan konsumen ketika memilih mobil listrik.

Akan tetapi, data penjualan bulanan belum dapat menunjukkan faktor mana yang paling memengaruhi kinerja Aion. Penurunan dari 1.001 unit menjadi 404 unit juga belum membuktikan bahwa konsumen beralih ke merek pesaing.

Untuk menguji kemungkinan tersebut, perkembangan penjualan Aion perlu dibandingkan dengan total penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), termasuk perubahan pangsa pasarnya sepanjang tahun.

Jika penjualan Aion turun ketika pasar BEV secara keseluruhan tumbuh, kondisi itu dapat menjadi petunjuk bahwa kinerja merek tersebut tertinggal dari perkembangan segmen. Sebaliknya, jika penjualan BEV secara umum juga mengalami penurunan, koreksi Aion perlu dibaca dalam konteks kondisi pasar yang lebih luas.

Perbandingan tersebut tetap perlu mempertimbangkan periode pengamatan dan data yang setara agar tidak menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Baca Juga: TKDN Mobil Listrik 60% Bisa Dikejar, Kemenperin Ungkap Syaratnya

Baca Juga: 26 Merek Mobil Berdarah-darah pada September, Penjualan Mitsubishi Terparah

Baca Juga: Penjualan Mobil Sudah 679 Ribu Unit, Target 850 Ribu Unit Masih Terkejar?

Koreksi Bulanan Belum Menentukan Tren

Secara keseluruhan, pasar mobil Indonesia mencatat penurunan penjualan ritel sebesar 2,6% pada September 2026. Penurunan juga terjadi pada sejumlah merek besar, termasuk Mitsubishi Motors yang penjualannya berkurang dari 5.561 unit menjadi 4.515 unit serta Suzuki dari 6.118 unit menjadi 5.625 unit.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa koreksi penjualan pada September tidak hanya terjadi pada Aion. Namun, besarnya penurunan yang dialami masing-masing merek berbeda dan belum menjelaskan faktor penyebabnya.

Karena itu, penurunan penjualan Aion sebesar 59,64% belum cukup untuk menyimpulkan bahwa permintaan terhadap mobil listrik merek tersebut melemah secara berkelanjutan.

Data penjualan dalam beberapa bulan berikutnya, kinerja kumulatif sepanjang 2026, dan perkembangan pasar BEV nasional akan membantu memperjelas apakah penurunan September hanya merupakan fluktuasi bulanan atau bagian dari perubahan posisi Aion di pasar mobil listrik Indonesia.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *