
Imperial Pictures menyiapkan film horor komedi Ghosthing untuk tayang di bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026. Eksekutif produser Peter Surya Wijaya mengungkapkan bahwa pemilihan cerita, kesiapan tim produksi, dan pemahaman terhadap target penonton menjadi pertimbangan utama dalam mendukung pengembangan film tersebut.
Peter menyampaikan pandangannya dalam rangkaian gala premiere Ghosthing di Senayan City XXI, Jakarta Selatan, pada 9 Oktober 2026. Menurut dia, keterlibatan produser tidak hanya berkaitan dengan dukungan terhadap produksi, tetapi juga memastikan cerita memiliki daya tarik dan dapat diwujudkan melalui kolaborasi tim kreatif.
Peter sebelumnya terlibat dalam sejumlah film, termasuk Kromoleo dan Assalamualaikum Beijing 2: Lost in Ningxia. Dalam produksi Ghosthing, ia bekerja bersama Hartawan Triguna sebagai produser dan Arie Aziz sebagai sutradara.
“Daya tarik film bagi saya adalah kemampuannya membuat orang ikut merasakan sebuah cerita. Ada yang pulang sambil tertawa, ada yang masih memikirkan tokohnya setelah beberapa hari. Saya ingin ikut membantu cerita yang kami percaya bisa terwujud dan mendapat kesempatan untuk bertemu penontonnya,” ujar Peter.
Ia mengatakan, kekuatan cerita, karakteristik penonton yang ingin dijangkau, dan kesiapan tim menjadi pertimbangan yang saling berkaitan ketika memilih proyek film. Premis yang menarik, menurutnya, perlu dikembangkan secara konsisten agar mampu mempertahankan perhatian penonton sepanjang cerita.
Ghosthing mengangkat kisah Alfian, seorang perias jenazah yang diperankan Baskara Mahendra, dan Maya, arwah seorang influencer yang diperankan Yasamin Jasem. Pertemuan keduanya membawa Alfian ke dalam upaya mengungkap misteri kematian Maya dengan rangkaian peristiwa yang memadukan ketegangan dan komedi.
Peter menilai perbedaan karakter dan dunia kedua tokoh tersebut membuka ruang untuk menghadirkan pengalaman menonton yang beragam. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara unsur horor dan komedi agar penonton tetap mengikuti perkembangan cerita hingga akhir.
“Yang menarik dari Ghosthing adalah pertemuan dua karakter dengan dunia dan kepribadian yang sangat berbeda. Ada ruang untuk membuat penonton penasaran, tegang, sekaligus tertawa. Tantangannya adalah menjaga agar penonton ingin terus mengikuti perjalanan mereka sampai akhir,” katanya.
Dalam proses produksi, Peter juga menekankan pentingnya komunikasi sejak awal mengenai arah proyek dan perencanaan. Kejelasan tersebut dinilai membantu sutradara, pemain, dan kru mengembangkan gagasan menjadi film yang utuh.
“Bagi saya, mendukung sebuah film juga berarti memberi kepercayaan kepada orang-orang yang mengerjakannya. Produser, sutradara, pemain, dan kru membawa keahlian masing-masing. Perencanaan yang jelas membantu mereka bekerja dan mengembangkan cerita dengan baik,” jelasnya.
Menjelang penayangan Ghosthing, Peter berharap film tersebut dapat memberikan pengalaman menonton yang menghibur sekaligus membuka ruang bagi penonton untuk menikmati dinamika hubungan Alfian dan Maya.
Ia juga memandang tanggapan penonton sebagai masukan untuk pengembangan karya Imperial Pictures berikutnya. Menurut Peter, kepercayaan audiens perlu dibangun secara berkelanjutan melalui kualitas setiap film yang diproduksi.
“Kepercayaan penonton dibangun dari film ke film. Setiap karya perlu dikerjakan dengan sungguh-sungguh, lalu kami harus mau mendengar responsnya. Pengalaman itulah yang menjadi bekal untuk terus belajar dan menghasilkan karya berikutnya,” tutup Peter.
Film Ghosthing dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026. Film ini menjadi bagian dari perjalanan Imperial Pictures dalam mengembangkan karya yang menggabungkan cerita, kolaborasi tim produksi, dan pengalaman menonton bagi penonton Indonesia.
