
Ketergantungan Indonesia terhadap minyak dinilai masih menjadi tantangan bagi ketahanan energi dan kondisi fiskal nasional. Direktur INDEF Green Transition Initiative, Imaduddin Abdullah, mendorong percepatan elektrifikasi sistem energi sebagai salah satu strategi untuk mengurangi risiko dari gejolak harga minyak global.
Imaduddin mengatakan ketergantungan terhadap minyak membuat Indonesia rentan terhadap perubahan harga energi dunia yang dapat berdampak terhadap anggaran negara.
“Memang aspek fiskal ini menjadi penting karena saat ini kita masih tergantung kepada minyak dalam kebutuhan energi,” ujar Imaduddin dalam diskusi transisi energi di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Ia menilai perubahan sistem energi menuju elektrifikasi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga memiliki dampak terhadap ekonomi dan kondisi fiskal.
“Elektrifikasi ini tidak hanya memberikan implikasi terhadap ekonomi makro, tapi juga menyeimbangkan, menyehatkan fiskal kita yang memang saat ini masih tergantung kepada minyak,” katanya.
Imaduddin menyoroti tekanan fiskal akibat ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil. Ia menyebut kompensasi energi pada September 2024 telah mencapai sekitar Rp376 triliun, lebih tinggi dibandingkan 2022 yang berada di kisaran Rp322 triliun ketika pemerintah menghadapi lonjakan harga energi akibat konflik Rusia-Ukraina.
Berdasarkan analisis INDEF-GTI, skenario least-cost high electrification dapat menurunkan permintaan minyak sekitar 22% pada 2035. Penurunan tersebut terutama berasal dari sektor transportasi, yang menyumbang lebih dari 90% pengurangan kebutuhan minyak melalui peralihan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel ke kendaraan listrik.
Pengurangan konsumsi minyak tersebut diproyeksikan dapat mengurangi kebutuhan impor energi dengan potensi penghematan sekitar US$60–75 miliar selama periode 2025–2035. Selain itu, elektrifikasi juga diperkirakan menghasilkan penghematan subsidi energi sekitar US$20 miliar dalam periode yang sama, terutama dari penurunan subsidi minyak dan diesel melalui elektrifikasi transportasi.
Selain dampak terhadap fiskal, Imaduddin menyebut elektrifikasi juga dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Berdasarkan analisis yang dipaparkan, skenario elektrifikasi berpotensi memberikan tambahan sekitar US$160 miliar terhadap PDB Indonesia selama 2025–2035.
Nilai tersebut disebut dapat menutup sekitar 8–10% dari kesenjangan menuju target pertumbuhan ekonomi 8% Indonesia.
ICP naik akibat tekanan pasokan global
Kondisi ketergantungan terhadap minyak tersebut menjadi sorotan ketika harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) mengalami kenaikan pada September 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan rata-rata ICP September 2026 mencapai US$112,81 per barel, naik 26,14% secara bulanan dari posisi Agustus 2026 sebesar US$89,43 per barel.
Baca Juga: Indef Soroti PR Besar IKM RI: Produksi Kecil, Standar Ekspor Belum Siap
Baca Juga: Elektrifikasi Berpotensi Tarik Investasi US$56 Miliar ke Indonesia
“Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik menjadi US$112,81 per barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan (supply disruption risk),” ujar Laode di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Menurut Laode, kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan global, termasuk tekanan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan terhadap sejumlah infrastruktur energi.
“Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional,” katanya.
