Monday, October 12News That Matters

Penjualan Eceran September 2026 Diprakirakan Kontraksi 2,3% Secara Bulanan


Wacana Berita, Jakarta –

Bank Indonesia (BI) memperkirakan penjualan eceran pada September 2026 tumbuh sebesar 1,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi Agustus 2026 sebesar 1,3%, dalam laman resmi BI dikutip Senin, (12/9/2026).

Berdasarkan Indeks Penjualan Riil (IPR), penjualan eceran pada September 2026 diprakirakan mencapai level 221,3. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan penjualan pada kelompok barang lainnya, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang budaya dan rekreasi. 

Meski tumbuh secara tahunan, penjualan eceran pada September 2026 diprakirakan mengalami kontraksi sebesar 2,3% secara bulanan (month-to-month/mtm). Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya penjualan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Sementara itu, penjualan eceran pada Agustus 2026 tercatat tumbuh sebesar 1,3% secara tahunan, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan Juli 2026 sebesar 1,1%.

Kenaikan pada Agustus 2026 didorong oleh peningkatan penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok suku cadang dan aksesori.

Secara bulanan, penjualan eceran pada Agustus 2026 tumbuh sebesar 0,8%, berbalik dari kontraksi 0,1% pada Juli 2026. Bank Indonesia menyebut perkembangan tersebut sejalan dengan permintaan yang tetap terjaga selama periode peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dari sisi harga, BI memperkirakan tekanan inflasi meningkat pada November 2026 dan Februari 2027. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk kedua periode tersebut.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS Terkerek Kebijakan Pro-Market Bank Indonesia

Baca Juga: Bidik Pasar Penjualan Emas Bekas, Super Emas Ekspansi ke Bogor

Lebih lanjut, IEH November 2026 tercatat sebesar 149,9, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks periode sebelumnya sebesar 146,5. Sementara itu, IEH Februari 2027 mencapai 177,9, meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 166,0.

Peningkatan kedua indeks tersebut menunjukkan ekspektasi kenaikan harga yang lebih tinggi pada periode mendatang. Perkembangan ini menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati dalam melihat prospek harga dan aktivitas konsumsi masyarakat.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *