
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkap alasan proses restrukturisasi sejumlah BUMN Karya membutuhkan waktu lebih panjang. Dua perusahaan menjadi perhatian khusus, yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
Danantara menilai pembenahan kedua perusahaan tersebut tidak bisa dilakukan secara terburu-buru karena memiliki persoalan dan aset proyek besar yang perlu ditangani secara hati-hati.
COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengatakan, WIKA menjadi salah satu perusahaan yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk diselesaikan. Salah satu masalah utamanya adalah utang yang mencapai sekitar Rp34 triliun.
“Yang bikin lama contoh WIKA. WIKA ini utangnya kan besar, tapi underlyingnya enggak cukup untuk menurunkan utangnya. Kurang lebih utang WIKA itu Rp34 triliun,” kata Dony seusai acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Menurut Dony, sebagian besar persoalan utang WIKA berkaitan dengan tagihan proyek Kereta Cepat Whoosh.
WIKA merupakan pemegang 33,36% saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang menguasai 60% saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Posisi tersebut membuat WIKA ikut menanggung beban dari proyek Whoosh dan mencatat kerugian sekitar Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun per tahun.
Dony menegaskan Danantara tidak ingin menyelesaikan persoalan WIKA hanya dengan memperpanjang masa pembayaran utang tanpa membenahi sumber masalahnya.
“Karena dulu ada tagihan Kereta Cepat yang di WIKA ini. Kan waktu kita merestrukturisasi saya tidak mau hanya asal-asal dikumpulin, terus kemudian ditarik 30 tahun 40 tahun, enggak ada gunanya. Nanti akan menjadi problem lagi,” ujarnya.
Karena itu, Danantara memilih melakukan pembenahan secara menyeluruh. Langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar restrukturisasi BUMN dilakukan sampai tuntas, bukan sekadar memperbaiki kondisi sementara.
“Kita mesti betul-betul melihat ini, mesti ngapain perusahaan ini. Karena arahnya dari Bapak Presiden, sekali kita melakukan perbaikan itu harus tuntas. Kita enggak mau setengah-setengah, hanya poles-poles, itu nggak ada gunanya. Nah ini yang agak memakan waktu WIKA,” tegas Dony.
Selain WIKA, Waskita Karya juga menjadi perusahaan yang membutuhkan penanganan lebih hati-hati.
Pasalnya, Waskita melalui anak usahanya, PT Waskita Toll Road (WTR), masih memiliki hak konsesi atas sejumlah ruas jalan tol. Di antaranya Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) dan Tol Pasuruan-Probolinggo.
Baca Juga: Danantara Lebur 4 BUMN Karya Jadi 2, Target November Selesai
Baca Juga: Danantara Tegas! Dividen Tak Akan Disetor ke APBN
Baca Juga: Danantara dan Bakrie (ENRG) Kompak Investasi di Perusahaan Migas AS, Ada Apa?
“Waskita juga sama. Waskita itu dia punya aset jalan tol kan, Waskita Toll Road. Kita lagi melihat apakah nanti yang akan bertahan tolnya aja,” ungkap Dony.
Karena memiliki aset strategis tersebut, Danantara masih mengkaji struktur terbaik untuk Waskita sebelum menentukan langkah restrukturisasi berikutnya.
4 BUMN Karya Lain Ditargetkan Merger November
Di luar WIKA dan Waskita, Danantara menargetkan proses merger empat BUMN Karya lainnya selesai paling lambat akhir November 2026.
Keempat perusahaan tersebut adalah PT Nindya Karya (Persero), PT Brantas Abipraya (Persero), PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT PP (Persero) Tbk.
Keempat perusahaan akan digabung menjadi dua entitas. Nindya Karya akan bergabung dengan Brantas Abipraya, sedangkan Adhi Karya akan merger dengan PT PP.
Dony mengatakan proses merger keempat perusahaan tersebut relatif lebih mudah dibandingkan pembenahan WIKA dan Waskita.
“Kalau yang empat relatively mudah untuk kita lakukan, artinya sudah bisa kita lakukan,” pungkas Dony.
