
Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa, mengatakan konsolidasi perusahaan negara menjadi salah satu strategi Danantara untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat kapasitas investasi pemerintah.
Menurut Sigit, jumlah perusahaan yang berada dalam pengelolaan Danantara telah dipangkas dari 1.077 entitas menjadi sekitar 750 perusahaan. Jumlah tersebut ditargetkan kembali menyusut menjadi sekitar 300 perusahaan pada akhir tahun.
“Dari 1.077 perusahaan BUMN, sekarang kita mencapai 760 perusahaan. Pada akhir tahun, kita akan bisa mencapai 300 perusahaan,” kata Sigit dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan, konsolidasi dilakukan untuk membentuk perusahaan negara yang lebih kuat. Dengan jumlah perusahaan yang lebih ramping, aset dan sumber daya diharapkan dapat dikelola lebih efektif sehingga kapasitas investasi pemerintah ikut meningkat.
Salah satu instrumen utama dalam pengelolaan aset tersebut adalah PT Danantara Asset Management. Sigit menyebut total aset yang berada di bawah pengelolaan atau assets under management (AUM) Danantara kini mendekati US$1 triliun.
“PT Danantara Asset Management merupakan pengawal super sebelumnya 1.077 BUMN, sekarang menjadi 750. Senjata ini sangat kuat. Kita memiliki aset under management hampir US$1 triliun,” ujar Sigit.
Menurutnya, Danantara dirancang sebagai instrumen pemerintah untuk memobilisasi investasi, memperkuat industri, sekaligus mengoptimalkan aset negara. Strategi tersebut juga diarahkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.
Selain mengelola aset, Danantara menyiapkan sejumlah instrumen investasi dengan fungsi yang berbeda. PT Danantara Investment Management ditujukan untuk investasi komersial yang mempertimbangkan tingkat pengembalian atau return.
Sementara itu, untuk proyek strategis dan investasi jangka panjang, Danantara membutuhkan instrumen pendanaan yang lebih fleksibel. Sigit mengatakan tidak semua proyek strategis bisa langsung memenuhi standar investasi komersial atau bankable.
Karena itu, Danantara Development Management Fund (EDMF) disiapkan untuk memainkan peran katalitik dalam membiayai proyek-proyek pembangunan nasional.
Baca Juga: Danantara: Menteri dan Wakil Menteri Bakal Dibagikan Mobil Maung Garuda
Baca Juga: Danantara Siap Umumkan IPO BUMN di Akhir Tahun: Sektor Finansial hingga Tambang
Baca Juga: Rosan Roeslani: Danantara Butuh Swasta, Andalkan BUMN Saja Tak Cukup
“EDMF melakukan peranan katalitik untuk memastikan kita bisa mengkapitalisasi strategi dan kepentingan ekonomi di masa depan,” ujar Sigit.
Dengan skema tersebut, Danantara berharap dapat menarik lebih banyak modal dari investor. Pendanaan berbasis ekuitas juga dapat dikombinasikan dengan sumber pembiayaan lainnya sehingga kapasitas pendanaan proyek menjadi lebih besar.
Sigit menambahkan, konsolidasi perusahaan negara dan penguatan instrumen investasi merupakan bagian dari strategi Danantara untuk menghubungkan aset negara, industri, pembiayaan, teknologi, dan talenta. Dengan pendekatan tersebut, aset dan sumber daya nasional diharapkan dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
