Wednesday, October 7News That Matters

ESDM Ungkap Kebutuhan Smelter Nikel Capai 320 Juta Ton


Wacana Berita, Jakarta –

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin, mengungkapkan kebutuhan pasokan bijih nikel untuk smelter yang telah terverifikasi mencapai sekitar 320 juta ton. Pemerintah saat ini terus mencocokkan kebutuhan industri hilir tersebut dengan kemampuan produksi tambang.

Cecep mengatakan, penyesuaian antara kebutuhan smelter dan kemampuan sektor hulu menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan hilirisasi nikel. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan cadangan, perizinan, serta kemampuan produksi perusahaan sesuai dengan kebutuhan industri pengolahan.

“Kemudian kita juga mematchkan dengan untuk kebutuhan smelter. Smelter saat ini terverifikasi bahwa yang akan terbangun misalnya untuk nikel itu di angka 320 jutaan yang kalau kami dapatkan. Tapi memang tentunya itu masih berkembang dari tahun ke tahun,” ujar Cecep dalam diskusi di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, kebutuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengaturan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Pemerintah tidak hanya melihat permintaan produksi dari perusahaan, tetapi juga menilai kesesuaian antara kapasitas tambang dan kebutuhan fasilitas pengolahan.

Untuk tahun ini, Kementerian ESDM menetapkan kuota produksi bijih nikel melalui RKAB sebesar 260 juta-270 juta ton. Namun, pemerintah kemudian melakukan relaksasi terukur pada Juli dengan mempertimbangkan kebutuhan pasokan industri serta kinerja produksi masing-masing perusahaan.

Baca Juga: Kemen ESDM Pastikan Pembebasan Cukai Etanol untuk Campuran BBM Sudah Tuntas

Baca Juga: Harga BBM Jadi Penyumbang Inflasi, Ini Kata Kementerian ESDM

Berdasarkan evaluasi tersebut, Cecep memproyeksikan realisasi produksi bijih nikel tahun ini mencapai sekitar 290 juta ton.

“Forecast-nya tercapai hampir sama dengan yang tahun lalu. Kalau dilihat dari forecast secara ini ya, secara performance masing-masing perusahaan. Hampir sama sih, sekitar di angka 290-an [juta ton],” ujar Cecep.

Ia menjelaskan, evaluasi produksi dilakukan dengan melihat sejumlah faktor, mulai dari kesesuaian cadangan, kemampuan produksi perusahaan, hingga kebutuhan masing-masing smelter.

“Kita melihat dari tadi kesesuaian cadangan apakah memang itu ada, kemudian performance produksinya memang itu sesuai yang dimohonkan, dan kebutuhan smeter memang cocok,” katanya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *