
Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, isu perombakan kabinet atau reshuffle pada Oktober 2026 kembali menjadi sorotan. Tokoh pergerakan yang kini menjadi Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan, mendorong Prabowo memanfaatkan momentum tersebut untuk memasukkan lebih banyak menteri yang dinilai memiliki kapasitas dan idealisme.
Pandangan itu disampaikan Syahganda saat berbincang dengan pakar hukum tata negara Refly Harun dalam siniar yang tayang pada 3 Oktober 2026.
Menurut Syahganda, komposisi kabinet saat ini masih dipengaruhi kompromi politik setelah pemilu. Karena itu, ia berharap Prabowo dapat menyisipkan sedikitnya lima hingga tujuh menteri baru yang memiliki kemampuan teknokratik dan pemahaman terhadap arah kebijakan presiden.
“Kalau dia (Prabowo) bisa extend (memasukkan) jadi lima atau tujuh menteri saja, saya pikir kita sudah senang sekali dengan apa yang dicapai oleh Prabowo,” ungkap Syahganda.
Syahganda mengakui posisi Prabowo tidak mudah karena harus menjaga hubungan dengan partai-partai politik yang berada dalam koalisi. Ia kemudian mengutip pandangan koleganya, Rocky Gerung, yang menyebut sekitar 70 persen menteri tidak memahami ideologi ekonomi kerakyatan yang dibawa Prabowo.
Menurut Syahganda, persoalan tersebut perlu dijawab dengan memasukkan figur yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing sektor, terutama kementerian yang berhadapan langsung dengan perkembangan teknologi dan industrialisasi.
Salah satu kementerian yang menjadi sorotannya adalah Kementerian Perindustrian. Syahganda menilai posisi tersebut seharusnya diisi orang yang memiliki pemahaman kuat mengenai teknologi, terutama menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau AI dan industri semikonduktor.
“Untuk porsi portofolio yang menyangkut pertarungan teknologi ke depan, memang harus orang-orang yang sangat canggih. Enggak boleh orang politik ansich menjadi menteri perindustrian. Pak Agus (Menteri Perindustrian saat ini) misalnya, mungkin cocok digeser menjadi Menko politik atau perdagangan, lalu posisinya diganti orang yang lebih tepat,” jelas Syahganda.
Ia menilai kebutuhan terhadap figur dengan kapasitas teknologi semakin penting karena Indonesia menghadapi persaingan industri dengan negara lain, termasuk Malaysia.
Meski pergantian menteri berpotensi memengaruhi keseimbangan koalisi, Syahganda mengatakan Prabowo tetap dapat menjaga representasi politik masing-masing partai melalui mekanisme substitusi.
Baca Juga: Baru Dilantik Prabowo, Syahganda Sarankan Gibran Diganti dan Kaesang Jadi Menpora
“Konsesi itu bisa dibicarakan dengan partai-partainya. Silakan diganti, tapi partai tetap punya hak. Golkar menggantikan orang Golkar, PAN menggantikan orang PAN, tapi dicari sosok yang bagus dan berkapasitas,” tambahnya.
Syahganda berharap reshuffle Oktober 2026 tidak hanya menjadi pergantian posisi, tetapi juga momentum untuk memperkuat kapasitas kabinet. Ia optimistis penambahan lima hingga tujuh teknokrat dan aktivis idealis dapat memperkuat kinerja pemerintahan.
Menurut dia, penguatan tersebut diperlukan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Prabowo sebesar 6 hingga 6,5 persen yang disebutnya harus tetap inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat hingga akhir masa pemerintahan pada 2029.
