
Tokoh pergerakan Syahganda Nainggolan membagikan pengalamannya saat berinteraksi dengan Teddy Indra Wijaya, orang kepercayaan Presiden Prabowo Subianto. Cerita tersebut disampaikan Syahganda ketika merespons kritik bernada personal yang pernah dilontarkan politisi senior Amien Rais terhadap Teddy.
Dalam perbincangan di kanal YouTube Refly Harun yang tayang pada 3 Oktober 2026, Syahganda mengatakan dirinya memiliki cara berbeda dalam mengkritik seseorang. Ia memilih menghindari tuduhan personal yang tidak dapat diukur dan lebih mengedepankan hal-hal yang menurutnya bisa dibuktikan.
Syahganda kemudian menceritakan pengalaman yang menurutnya justru menunjukkan sisi religius Teddy.
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat ketika Syahganda tengah menghadiri sebuah pertemuan yang dinilainya sangat mendesak. Karena agenda itu, ia mengaku tidak menunaikan Salat Jumat. Sementara rekannya, Jumhur Hidayat, memilih meminta izin untuk pergi ke masjid.
“Pada saat bersamaan, orang yang sedang bersama saya ini menelepon Teddy. Tentu tidak diangkat,” tutur Syahganda.
Setelah waktu Salat Jumat selesai, pihak Teddy kemudian memberikan penjelasan mengenai panggilan yang tidak terjawab tersebut.
“Ternyata itu lagi salat Jumat. Pada saat selesai waktu Jumat, orang itu bilang, ‘Aku lagi salat Jumat di Istana’,” ungkap Syahganda menirukan pesan tersebut.
Cerita itu membuat Syahganda terkejut. Ia bahkan mengaku merasa kalah dalam hal kedisiplinan menjalankan ibadah pada hari tersebut.
“Saya kaget, satu hari saya enggak salat Jumat, Teddy salat Jumat. Jadi saya tuh kadang-kadang merasa, kok dia lebih agamis dari saya,” akunya.
Syahganda mengatakan pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya berhati-hati ketika menyikapi rumor atau tuduhan personal terhadap seseorang. Ia menyebut terdapat prinsip dalam fikih Islam yang mengatur secara ketat mengenai tuduhan terhadap orang lain.
Karena itu, Syahganda mengatakan dirinya bersama lembaga kajian Great Institute lebih memilih menilai pemerintahan berdasarkan data dan indikator yang dapat diukur.
“Kalau saya masuk ke yang rasional. Bisa enggak saya menganalisa, bohong enggak pemerintah ketika mengatakan pertumbuhan 5,6 persen? Buat saya itu ada variabel-variabel terukur yang bisa melihat Prabowo ini benar atau enggak, itu bidang kajian saya,” pungkas Syahganda.
Menurut Syahganda, pendekatan berbasis data tersebut lebih penting dibandingkan melontarkan tuduhan personal yang sulit diverifikasi. Ia menilai kinerja pemerintah dapat dikritisi melalui kebijakan, angka, serta dampak yang dapat dianalisis secara objektif.
