
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi Yudistian Yunis mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan data center dan kecerdasan buatan (AI) mulai mencari pasokan energi terbarukan untuk mendukung operasional mereka. Menurut Yudistian, kebutuhan tersebut muncul karena perusahaan teknologi semakin memperhatikan aspek lingkungan dalam menjalankan bisnisnya.
“Banyak provider data center dan AI itu meletakkan dirinya untuk concern terhadap lingkungan. Saya mau bikin data center, AI saya pakai renewable energy,” kata Yudistian dalam acara media gathering di Bogor, Jumat (2/10/2026).
Yudistian menjelaskan, kebutuhan energi hijau tidak mengharuskan pembangkit listrik terbarukan berada di lokasi yang sama dengan konsumen.
Salah satu mekanisme yang dapat digunakan adalah Renewable Energy Certificate (REC). Melalui skema ini, konsumen dapat memperoleh atribut atau pengakuan atas penggunaan energi terbarukan meski sumber pembangkitnya berada di lokasi berbeda.
“Kalau dia pengen bilang, saya mau punya dari Geo Dipa, boleh. Ada satu mekanisme yang kita kenal adalah mekanisme carbon trading atau Renewable Energy Certificate,” ujarnya.
Menurut Yudistian, skema tersebut membuka peluang bagi Geo Dipa untuk memasok atribut energi terbarukan kepada konsumen industri yang membutuhkan energi hijau, termasuk perusahaan data center.
Peluang pasar energi hijau juga semakin besar karena sejumlah perusahaan global disebut memiliki willingness to pay more atau kesediaan membayar lebih untuk menggunakan energi terbarukan.
Baca Juga: Kemenkeu Kaji Pangkas Beban Fiskal Panas Bumi, Bisa Turun dari 40%?
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Kemenkeu Evaluasi Beban Subsidi APBN
“Menariknya, mereka punya willingness to pay more. Jadi kalau pemerintah dari segi perintah itu, mereka mau bayar lebih,” kata Yudistian.
Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi Indonesia. Kebutuhan energi bersih dari sektor data center dan AI tidak hanya dapat mendorong pengembangan pembangkit energi terbarukan, tetapi juga menciptakan pasar baru bagi produk dan atribut energi hijau.
Yudistian berharap tren tersebut dapat dikembangkan menjadi ekosistem ekonomi hijau yang bukan sekadar memenuhi tuntutan lingkungan, tetapi juga meningkatkan daya saing industri sekaligus menarik investasi ke Indonesia.
