Saturday, October 3News That Matters

Batik Hadapi Perubahan Selera Konsumen, Inovasi Digital Jadi Ruang Baru


Wacana Berita, Jakarta –

Batik kini tidak hanya hadir sebagai kain tradisional. Perubahan selera konsumen dan perkembangan teknologi membuka ruang bagi batik untuk masuk ke produk fesyen siap pakai hingga berbagai kebutuhan gaya hidup, dengan tetap mempertahankan karakter tradisionalnya.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan industri batik telah berkembang di berbagai daerah. Tercatat sekitar 5.946 industri batik dan lebih dari 200 sentra batik yang tersebar di 11 provinsi. Sektor ini juga menyerap sekitar 47 ribu tenaga kerja.

Dari sisi perdagangan, ekspor batik meningkat dari US$15,20 juta pada 2024 menjadi US$20,14 juta pada 2025 atau tumbuh 32,5 persen. Namun, pada semester I 2026, nilai ekspornya tercatat US$4,39 juta, turun dibandingkan US$5,09 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia Syukur Idayati mengatakan perkembangan industri batik perlu mengikuti perubahan pasar tanpa menghilangkan unsur tradisi yang menjadi karakter produknya.

“Pengembangan batik ke depan perlu memperhatikan keterhubungan antara tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar,” ujar Idayati saat menjadi narasumber Community Engagement “Batik Beyond Tradition: Digital dalam Inovasi, Berkelanjutan, dan Bertahan dalam Tradisi” di Surabaya, Dikutip Sabtu (3/10/2026).

Menurut dia, salah satu peluangnya adalah memperluas penggunaan batik ke produk ready-to-wear, aksesori, hingga produk gaya hidup. Diversifikasi tersebut dapat membuka akses ke konsumen yang lebih luas sekaligus memperpanjang rantai nilai industri fesyen.

Teknologi digital juga mulai memiliki peran dalam proses pengembangan batik, mulai dari eksplorasi motif dan desain hingga pemasaran. Pemanfaatannya memungkinkan pelaku usaha menyesuaikan produk dengan perubahan tren dan perilaku konsumen.

Namun, perkembangan teknologi tidak serta-merta menggantikan proses tradisional. Hal itu terlihat dari Rumah Batik Jawa Timur yang telah menjalankan usaha batik tulis secara turun-temurun selama tiga generasi.

Founder Rumah Batik Jawa Timur Syarif Usman mengatakan teknologi digital digunakan sebagai alat untuk mengembangkan desain, sementara proses utama batik tulis tetap dipertahankan.

“Digital bukan pengganti tradisi, tapi sebagai salah satu alat untuk menjaganya tetap hidup,” ujarnya.

Baca Juga: BNI Komitmen jadikan Batik sebagai Identitas Budaya Indonesia

Menurut Syarif, keberlanjutan batik juga bergantung pada regenerasi perajin dan pengetahuan membatik. Rumah Batik Jawa Timur bersama Dinas Pendidikan Kota Surabaya memberikan pelatihan batik tradisional kepada 700 sekolah dasar di Surabaya.

Upaya serupa dilakukan Ulur Wiji melalui konsep UpliftingWear. Jenama lokal tersebut memadukan material alami, teknik kriya tradisional, dan desain kontemporer untuk menghasilkan produk yang lebih dekat dengan kebutuhan konsumen masa kini.

Founder & COO Ulur Wiji Nasta Rofika mengatakan pengembangan produk juga dibarengi dengan pelibatan perempuan muda di komunitas perdesaan dalam pengembangan keterampilan kriya.

“Kami juga melibatkan perempuan muda di komunitas perdesaan dalam pengembangan keterampilan kriya. Pendekatan ini mempertemukan penguatan kapasitas generasi penerus dengan pengembangan produk fesyen yang membawa karakter kriya Indonesia ke dalam bentuk yang lebih modern,” kata Nasta.

Perubahan cara konsumen mengenakan dan membeli produk fesyen membuat industri batik menghadapi kebutuhan untuk terus beradaptasi. Di sisi lain, proses produksi tradisional, pengetahuan membatik, dan nilai budaya tetap menjadi bagian yang membedakan batik dari produk fesyen lainnya.

Karena itu, perkembangan batik tidak hanya bergantung pada kemampuan mempertahankan tradisi, tetapi juga bagaimana tradisi tersebut diterjemahkan ke dalam desain, produk, teknologi, dan pasar yang terus berubah.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *