
Google mulai menguji cip kecerdasan buatan (AI) di orbit melalui Project Suncatcher. Namun, rencana membangun infrastruktur komputasi AI dalam skala besar di antariksa masih menghadapi tantangan, salah satunya kebutuhan peluncuran roket dalam jumlah sangat besar.
Dalam kajian peer-reviewed yang diterbitkan di jurnal Joule, Google memperkirakan pengembangan infrastruktur komputasi orbital dapat membutuhkan sekitar 1.800 penerbangan Starship dalam 10 tahun. Perhitungan tersebut didasarkan pada kebutuhan mengirim sekitar 370.000 ton muatan ke orbit dengan asumsi setiap penerbangan membawa 200 ton.
Dengan asumsi tersebut, Starship perlu melakukan sekitar 180 penerbangan setiap tahun. Angka itu jauh di atas frekuensi penerbangan Starship saat ini yang belum pernah mencapai lebih dari lima kali dalam setahun.
Google menegaskan kajian tersebut bukan studi kelayakan ekonomi. Kajian itu lebih menggambarkan potensi penurunan biaya peluncuran seiring perkembangan teknologi roket.
Google memperkirakan biaya peluncuran dapat turun mendekati US$200 per kilogram pada 2035 apabila tren penurunan biaya yang dikaitkan dengan kurva pembelajaran SpaceX terus berlanjut. Google juga merupakan salah satu investor SpaceX.
Sementara itu, CEO SpaceX Elon Musk sebelumnya menyatakan Starship berpotensi mencapai frekuensi penerbangan setiap jam pada 2029. Namun, frekuensi penerbangan saat ini masih jauh dari tingkat tersebut.
Di tengah ambisi tersebut, Google telah memulai pengujian langsung di orbit. Satelit prototipe Project Suncatcher yang dibuat bersama Planet berhasil diluncurkan pada 1 Oktober 2026 melalui misi Transporter-18 milik SpaceX dari California. Google mengonfirmasi satelit telah masuk orbit dan beroperasi sesuai rencana.
Satelit tersebut membawa Tensor Processing Unit (TPU) rancangan Google untuk menguji kemampuan cip AI bekerja dalam kondisi antariksa. Pengujian mencakup kemampuan memasok daya sekitar 1 kilowatt secara berkelanjutan, menjaga suhu cip, serta menjalankan sejumlah model AI.
Pada tahap awal, TPU akan dinyalakan dalam interval sekitar 15 menit. Pengaturan tersebut dilakukan untuk menghindari beban berlebihan pada sistem kelistrikan dan pengelolaan panas satelit.
Google sebelumnya telah menguji TPU di darat, termasuk melalui pengujian radiasi menggunakan akselerator partikel. Namun, perusahaan menilai kondisi orbit tetap diperlukan untuk menguji perangkat secara langsung.
“Tidak ada tes yang sepenuhnya sebaik kondisi nyata,” ujar Travis Beals, eksekutif Google yang memimpin Project Suncatcher.
Radiasi menjadi salah satu tantangan yang diuji. Google menyebut hasil pengujian awal menunjukkan TPU dapat bertahan terhadap paparan radiasi yang diperkirakan diterima selama misi lima tahun. Namun, peningkatan tingkat kesalahan dapat menjadi persoalan apabila ribuan cip digunakan untuk menjalankan pelatihan AI dalam waktu berbulan-bulan.
Selain radiasi, komunikasi antarsatelit juga menjadi tantangan. Infrastruktur AI di orbit membutuhkan koneksi dengan bandwidth tinggi dan latensi rendah agar banyak TPU dapat bekerja sebagai satu sistem.
Baca Juga: Penjualan Perangkat Apple, Samsung, dan Google Terancam Karena Sengketa Paten
Baca Juga: Anies Baswedan Pamer dengan Petinggi Google, Netizen: ‘Sekarang Jadi Karyawan Google Bah?’
Baca Juga: Google Pics Meluncur, Senjata Baru Google untuk Tantang Canva
Google berencana menguji teknologi tersebut melalui dua satelit yang akan diterbangkan pada 2027. Kedua satelit dirancang khusus untuk kebutuhan komputasi dan akan menggunakan komunikasi laser. Dalam visi jangka panjang, Google membayangkan jaringan 81 satelit yang terbang berdekatan dan memproses data secara paralel.
Selain sistem komunikasi dan pendinginan, kemampuan roket melakukan peluncuran berulang dalam frekuensi tinggi menjadi faktor penting bagi pengembangan data center AI di orbit. Google sendiri menyebut Project Suncatcher masih merupakan riset jangka panjang untuk menguji apakah infrastruktur machine learning berskala besar dapat dibangun di luar angkasa.
