
PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) resmi memulai transformasi bisnis besar-besaran dari perusahaan periklanan digital menjadi penyedia infrastruktur ekosistem AI terpadu di Indonesia. Transformasi ini berlangsung di bawah kendali pemegang saham pengendali baru, PT Sinergi Internasional Investama (SII).
Langkah strategis tersebut tercermin dalam keterbukaan informasi Perseroan yang disampaikan melalui laman Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (1/10/2026).
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, melalui entitas anak PT Cakrawala Nexus Investama (CNI), DOOH berencana mengambil alih 29,88% saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dari PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN).
Akuisisi tersebut mencakup 6,685 miliar saham INET dengan harga Rp300 per saham. Dengan demikian, nilai transaksi mencapai sekitar Rp2,005 triliun.
Nilai transaksi tersebut tergolong sangat material bagi DOOH. Berdasarkan posisi keuangan per 30 Juni 2026, nilai akuisisi setara dengan 647,90% dari total ekuitas konsolidasian Perseroan, sehingga transaksi tersebut masuk dalam kategori Transaksi Material sebagaimana diatur dalam POJK No. 17/2020.
Integrasi jaringan dan kapabilitas INET ke dalam ekosistem DOOH diarahkan untuk memperkuat bisnis infrastruktur digital dan AI. Perseroan membidik pengembangan Data Centre AI, High Speed Connectivity, Inland Fiber Optic Backbone, Submarine Fiber Optic Backbone, serta Green Energy melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Untuk menopang ekspansi tersebut, DOOH bersama SII menyiapkan empat aksi korporasi utama yang saling berkaitan.
Aksi korporasi pertama berupa fasilitas shareholder loan dari SII dengan plafon mencapai Rp5 triliun. Fasilitas tersebut memiliki tenor 10 tahun dengan tingkat bunga 7,50% per tahun. Dari total plafon tersebut, pencairan tahap awal sebesar Rp2 triliun akan digunakan DOOH untuk membiayai pengambilalihan saham INET.
Aksi kedua berupa perubahan penggunaan dana sisa hasil IPO sebesar Rp120 miliar. Dana tersebut rencananya dialihkan menjadi setoran modal kepada CNI untuk mendukung porsi pendanaan dalam transaksi akuisisi INET.
Baca Juga: Sinergi BUMN Dorong Pemberdayaan Masyarakat Banda Neira Lewat Program TJSL Terintegrasi
Baca Juga: DOOH Mengarah ke Ekosistem AI, Bidik Bisnis Data Center hingga Energi Hijau
Selanjutnya, aksi korporasi ketiga adalah rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I/Rights Issue). Dalam aksi tersebut, DOOH berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 154,77 miliar saham baru yang disertai dengan Waran Seri II.
Sementara itu, aksi korporasi keempat mencakup pembenahan struktur dan tata kelola Perseroan. Rencana tersebut meliputi perubahan nama perusahaan, perubahan alamat kedudukan, penyesuaian KBLI 2025, perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris, serta peningkatan modal dasar Perseroan.
Menunggu Persetujuan Pemegang Saham
Seluruh rangkaian aksi korporasi tersebut selanjutnya akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 9 November 2026.
Jika seluruh agenda memperoleh persetujuan, rangkaian transaksi tersebut akan menjadi bagian penting dari transformasi DOOH menuju bisnis infrastruktur digital dan AI. Melalui akuisisi INET dan penguatan pendanaan, Perseroan menargetkan terbentuknya ekosistem yang mengintegrasikan data center, konektivitas berkecepatan tinggi, jaringan fiber optik darat dan bawah laut, serta energi hijau dalam satu platform bisnis.
