Thursday, October 1News That Matters

Peneliti Prasmul Kembangkan AI untuk Bantu Dokter Jantung


Wacana Berita, Jakarta –

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai dikembangkan untuk mendukung pengambilan keputusan dokter dalam menangani pasien penyakit jantung. Salah satunya melalui teknologi yang memadukan citra medis dan sistem navigasi berbasis komputer selama prosedur pemasangan kateter dan stent.

Inovasi tersebut dikembangkan Agung Alfiansyah, Faculty Member Program Studi AI & Robotics Universitas Prasetiya Mulya, melalui penelitian Computer Assisted Medical Intervention for Percutaneous Coronary Intervention (CAMI-PCI).

Sistem tersebut dirancang untuk membantu dokter memadukan data CT Scan atau MRI dengan citra fluoroscopy secara real-time. Teknologi ini ditujukan untuk membantu dokter memantau posisi kateter sekaligus kondisi pembuluh darah secara lebih presisi ketika melakukan Percutaneous Coronary Intervention (PCI).

PCI merupakan prosedur yang dilakukan dengan memasukkan kateter dan stent untuk menangani pembuluh darah yang mengalami penyumbatan. Dalam praktiknya, dokter harus menavigasi alat melalui pembuluh darah dengan bantuan citra sinar-X dua dimensi, sementara struktur pembuluh darah dan organ yang ditangani memiliki bentuk tiga dimensi yang kompleks.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang ingin dijawab melalui pengembangan CAMI-PCI.

“AI sering dipersepsikan identik dengan robot atau chatbot. Padahal potensinya jauh lebih luas. Melalui penelitian ini kami ingin menunjukkan bahwa AI juga dapat membantu dokter mengambil keputusan yang lebih presisi sehingga manfaat akhirnya kembali kepada pasien,” ujar Agung.

AI Jadi Navigator Digital

CAMI-PCI dikembangkan dengan menggabungkan sejumlah bidang teknologi, mulai dari Artificial Intelligence, Computer Vision, Medical Image Processing, Sensor Fusion, Embedded System, hingga Software Engineering.

Teknologi tersebut berfungsi sebagai sistem pendukung keputusan selama prosedur PCI. CAMI-PCI tidak dirancang untuk menggantikan dokter, melainkan memberikan informasi tambahan melalui visualisasi kondisi pembuluh darah dan posisi kateter.

“Kami tidak ingin menggantikan keputusan dokter, tetapi memberikan informasi yang lebih lengkap agar setiap keputusan dapat diambil dengan lebih tepat. Harapannya, tindakan menjadi lebih aman, lebih efisien, dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien,” kata Agung.

Menurut Agung, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan AI tidak terbatas pada aplikasi yang berhadapan langsung dengan konsumen seperti chatbot, pembuatan gambar, maupun robot. Teknologi tersebut juga dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan spesifik di sektor kesehatan.

Pengembangan CAMI-PCI sekaligus menjadi bagian dari penerapan kompetensi yang dikembangkan dalam Program Studi AI & Robotics Universitas Prasetiya Mulya. Program tersebut mengintegrasikan kemampuan teknologi AI dengan berbagai bidang penerapan, termasuk kesehatan, manufaktur, energi, dan industri digital.

Buka Peluang Teknologi Kesehatan

Agung menilai perkembangan AI pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan algoritma, tetapi juga oleh manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

Melalui CAMI-PCI, teknologi AI diarahkan untuk menjadi bagian dari proses klinis dengan memberikan dukungan visualisasi kepada dokter selama tindakan PCI. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu dokter bekerja dengan informasi yang lebih lengkap ketika mengambil keputusan.

Pengembangan teknologi seperti CAMI-PCI juga menunjukkan peluang penerapan AI pada industri kesehatan, terutama dalam pengolahan citra medis, navigasi perangkat medis, dan sistem pendukung keputusan.

Universitas Prasetiya Mulya melalui penelitian tersebut mendorong pengembangan solusi AI yang tidak hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kebutuhan sektor riil dan dampaknya bagi masyarakat.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *