
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Dr. Selamat Ginting, menilai Presiden Prabowo Subianto kemungkinan memandang Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) sebagai “anak macan” yang suatu saat bisa menjadi ancaman politik baginya.
Penilaian itu didasarkan pada tingginya elektabilitas Dedi Mulyadi. Sejumlah pengamat politik juga menilai KDM berpotensi meninggalkan Partai Gerindra dan bahkan berhadapan langsung dengan Prabowo pada Pilpres 2029.
Baca Juga: Dian Sandi Yakin Gibran Tak Akan Didiskualifikasi MK, Singgung Nama Prabowo
“Ya ini betul-betul bagi Prabowo barangkali ya KDM seperti anak macan yang kelak akan bisa menggigit Prabowo,” ujar Ginting dalam YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Selasa (29/9).
Ia kemudian mengingatkan bahwa Prabowo menurutnya pernah “digigit” oleh tiga sosok yang disebutnya sebagai “anak macan”, yakni Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Anies Baswedan, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
“Prabowo kan sudah belajar dari kasus siapa, kasus Ahok, kasus Jokowi kan memelihara anak macan akhirnya kemudian Prabowo justru digigit oleh Jokowi ‘Anak-anak macan; ini secara politik kan enggak tahu diri,” jelasnya.
Ginting juga menyinggung hubungan politik Prabowo dengan Anies dan Jokowi yang pada akhirnya berubah menjadi lawan politik di kontestasi nasional.
“Anies berhadapan dengan Prabowo Kemudian di Pilpres 2024, Prabowo berhadapan dengan Jokowi di dua Pilpres. Nah ini juga orang-orang yang dipelihara yang dibiayai Prabowo malah menggigit Prabowo, termasuk Ahok itu kan yang di diusulkan oleh Prabowo,” imbuhnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut membuat Prabowo harus lebih berhati-hati dalam menentukan posisi politik Dedi Mulyadi ke depan.
“Jadi Prabowo ini saya kira pernah menjadi tiga korban dari semuanya itu. Nah sehingga apakah Prabowo akan empat kali digigit oleh anak macan peliharaannya sehingga dia harus hati-hati sekali di dalam menentukan posisi KDM,” tandasnya.
Sebagai informasi, pada Pilkada DKI Jakarta 2012, Prabowo bersama PDIP mengusung pasangan Jokowi dan Ahok. Keduanya kemudian terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Namun, pada 10 September 2014, Ahok secara resmi menyatakan keluar dari Partai Gerindra menjelang dirinya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi yang terpilih sebagai Presiden RI.
Baca Juga: Gibran Diprediksi Tak Ikut Pilpres 2029, Nama Anies dan KDM Ikut Terseret
Sementara itu, Prabowo dan Jokowi kemudian berhadapan sebagai rival dalam Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Dalam kedua kontestasi tersebut, Prabowo kalah dari mantan Wali Kota Solo tersebut.
Di sisi lain, Anies juga dinilai mendapat dukungan politik dari Prabowo saat maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Setelah menjabat Gubernur DKI Jakarta hingga 2022, Anies kemudian menjadi salah satu lawan Prabowo dalam Pilpres 2024.
