
Hilirisasi mineral dan batu bara (minerba) menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik. Program yang masuk dalam agenda Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto ini juga diproyeksikan menjadi salah satu penggerak dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%.
Deputi Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi, mengatakan pemerintah terus mendorong percepatan investasi hilirisasi melalui BPI Danantara. Langkah tersebut dilakukan untuk membangun ekosistem hilirisasi yang terintegrasi, tidak hanya dari sisi hulu, tetapi juga hingga menghasilkan produk akhir (end to end).
“Harus ada policy. Policy yang terintegrasi, ekosistem yang diciptakan. Karena melompat dari 5 ke 8% butuh namanya engine growth. Mana sumber pertumbuhannya? Sumber pertumbuhannya alhamdulillah sebenarnya kita dijumpai sama Tuhan Yang Maha Esa, itu sumber daya alam yang relatif banyak. Dan itu mendukung semua upaya-upaya kita sehingga optimis 8% itu itu bisa tercapai,” ungkapnya dalam sebuah forum diskusi di Jakarta.
Namun, optimalisasi sektor minerba melalui hilirisasi juga membutuhkan kebijakan yang mampu menjaga keberlanjutan investasi dan menghadapi dinamika harga komoditas global.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai, hilirisasi komoditas minerba masih sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas. Karena itu, diperlukan kebijakan fiskal yang lebih adaptif agar manfaat ekonomi dari sektor tambang dapat semakin optimal.
Menurutnya, peningkatan nilai tambah di dalam negeri menjadi salah satu kunci untuk memperbesar kontribusi sektor pertambangan terhadap transformasi ekonomi nasional.
“Pemerintah dapat mendorong skema yang lebih adaptif seperti mekanisme berbasis windfall saat harga tinggi, memperkuat hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, serta meningkatkan transparansi pengelolaan penerimaan. Dengan begitu, kontribusi besar dari pelaku usaha seperti MIND Grup bisa semakin berdampak bagi transformasi ekonomi nasional,” tuturnya saat dihubungi.
Dorongan hilirisasi tersebut kemudian diterjemahkan melalui pembangunan berbagai fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral, baik oleh perusahaan BUMN maupun swasta. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperpanjang rantai nilai komoditas agar tidak berhenti pada aktivitas ekstraksi bahan mentah.
Salah satu implementasi strategi tersebut dilakukan oleh MIND ID. Sejak bertransformasi menjadi strategic active holding, MIND ID mengintegrasikan pengelolaan sumber daya mineral dan batu bara melalui sejumlah anggota holding, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), PT TIMAH Tbk, dan PT Vale Indonesia.
Integrasi tersebut menjadi fondasi dalam membangun rantai pasok industri mineral yang saling terhubung dan memiliki daya saing lebih tinggi.
Salah satu proyek strategis yang dikembangkan adalah pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek dengan nilai investasi Rp104,55 triliun atau sekitar US$6,23 miliar tersebut ditargetkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas hingga 70 kali lipat.
Pengembangan proyek itu melibatkan sinergi tiga anggota holding industri pertambangan MIND ID, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) sebagai penggerak industri aluminium, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) sebagai pemasok bauksit, serta PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebagai penyedia energi.
Tidak hanya BUMN, sektor swasta juga terus memperkuat hilirisasi melalui pembangunan industri pengolahan mineral bernilai tambah.
Baca Juga: Weda Bay-Harita dan Jejak Karbon di Balik Ledakan Hilirisasi Nikel RI
Baca Juga: Hilirisasi Tanah Jarang Terganjal Aturan Limbah BUMN dan Kelangkaan Ahli Geologi REE
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), misalnya, mengembangkan hilirisasi nikel terintegrasi untuk mendukung rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global. Perseroan mengintegrasikan bisnis mulai dari sektor hulu berupa pertambangan nikel hingga pengolahan produk bernilai tambah tinggi.
Di sektor tembaga, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) telah merampungkan pembangunan smelter tembaga di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Fasilitas tersebut dirancang untuk mengolah hingga 900.000 metrik ton konsentrat tembaga per tahun.
Sementara itu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nikel) menjalankan hilirisasi melalui pengoperasian fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk meningkatkan nilai tambah nikel di dalam negeri.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menilai, sektor pertambangan melalui kebijakan hilirisasi merupakan agenda strategis nasional untuk mendorong transformasi ekonomi sekaligus mengejar target pertumbuhan hingga 8% pada 2029.
“Hilirisasi menjadi kunci peningkatan nilai tambah komoditas, mulai dari nikel, bauksit, hingga batubara,” pungkas Sugeng.
