
Pemerintah masih menunggu terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) untuk merealisasikan insentif sepeda motor listrik yang sebelumnya disebut telah diketok dan diarahkan berlaku tahun ini. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan pemerintah telah berkomitmen menjalankan kebijakan tersebut, tetapi implementasinya masih menunggu aturan fiskal.
“Yang pasti kan sudah diketok oleh pemerintah. Tinggal apakah bisa direalisasikan secepatnya. Kita tunggu PMK,” kata Faisol saat ditemui di NICE PIK 2, Tangerang, Kamis (24/9/2026).
Faisol juga memberi sinyal bahwa pemerintah masih menargetkan insentif tersebut terealisasi tahun ini. Namun, kepastian waktunya tetap bergantung pada penerbitan PMK. Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut petunjuk teknis pemberian insentif telah disiapkan dan implementasinya tinggal menunggu keputusan Menteri Keuangan.
Di tengah penantian tersebut, industri masih menghadapi sejumlah ketidakpastian terkait detail program. Salah satunya mengenai besaran insentif yang disebut berada di kisaran Rp3 juta per unit.
Founder dan CEO Mimo Mobility Triharsa Adicahya mengatakan nominal tersebut belum sepenuhnya final. Ketentuan mengenai baterai, pengisian daya, serta sejumlah persyaratan teknis kendaraan juga masih dibahas.
“Dari segi insentifnya, katanya Rp3 juta, cuma kan juga masih belum fix ya, masih diatur-atur. Terus baterainya juga masih diatur-atur, belum beres,” ujar Triharsa.
Pemerintah disebut tengah menyiapkan standar baterai dan ketentuan pengisian daya. Industri juga masih menunggu kepastian mengenai sejumlah persyaratan kendaraan, termasuk informasi bahwa motor yang mendapat insentif harus merupakan model baru dan bukan produk yang sudah beredar.
Menurut Triharsa, penyempurnaan aturan tersebut menunjukkan pemerintah berupaya belajar dari pelaksanaan program subsidi sebelumnya. Ia berharap skema baru memiliki aturan yang lebih jelas, transparan, dan adil bagi seluruh pelaku industri.
Meski demikian, Triharsa menilai bisnis motor listrik tidak boleh sepenuhnya bergantung pada insentif. Bagi Mimo Mobility, subsidi merupakan faktor pendukung, sementara bisnis harus tetap berjalan ketika insentif dihentikan.
“Kita tidak akan begging for subsidi. Kalau ada bagus, tapi kalau tidak ada, bisnisnya harus tetap jalan,” ungkap dia.
Menurutnya, untuk memperluas penggunaan motor listrik, pemerintah tidak hanya perlu memberikan subsidi pembelian, tetapi juga memperkuat pembiayaan. Konsumen dapat didorong melalui skema cicilan yang kompetitif sehingga pembelian motor listrik tidak selalu bergantung pada potongan harga.
Triharsa menilai hal tersebut penting karena pembelian sepeda motor di Indonesia banyak mengandalkan kredit. Dengan pembiayaan yang kompetitif, konsumen dapat membeli motor listrik tanpa harus bergantung sepenuhnya pada subsidi.
Selain pembiayaan, pengembangan ekosistem juga dinilai penting, mulai dari infrastruktur pengisian daya, bengkel hingga ketersediaan teknisi. Menurut Triharsa, transisi dari kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik merupakan kebutuhan jangka panjang, terutama di tengah beban subsidi bahan bakar yang masih menjadi persoalan fiskal.
Baca Juga: Insentif Motor Listrik Sudah Diketok, Realisasi Masih Tunggu PMK
Baca Juga: Industri Motor Listrik Minta Kepastian Aturan, Bukan Sekadar Insentif
Mimo Mobility pun menyiapkan ekosistem tersebut melalui pusat pelatihan mekanik kendaraan listrik Spora Institute dan jaringan bengkel Spora Prima. Perusahaan juga mengembangkan pelatihan dan standar kompetensi teknisi serta bekerja sama dengan sekitar 35 SMK di Jawa dan Bali untuk menyiapkan tenaga teknisi kendaraan listrik.
“Jadi kami bukan hanya bikin pabrik motor, tapi kami bikin pabrik teknisi,” jelas dia.
Triharsa menilai ketersediaan bengkel dan teknisi menjadi bagian penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Menurutnya, jaringan layanan purnajual bahkan perlu diperluas sebelum penjualan motor listrik digenjot.
“Kita berusaha supaya bengkel itu lebih banyak daripada showroom. Jangan sampai showroom lebih banyak daripada bengkelnya. Nanti customer ini mau benerin di mana?” katanya.
