Thursday, September 24News That Matters

Gede Pasek Kritik Kubu Prabowo Pasif, Cium Aroma Pengkhianatan dan Skenario Suksesi


Wacana Berita, Jakarta –

Mantan Anggota Komisi III DPR Gede Pasek Suardika, melontarkan kritik tajam terhadap kubu Presiden Prabowo Subianto.

Ia menilai tim koalisi pemerintah terlalu pasif dan terkesan lepas tangan dalam merespons polemik gugatan ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Mahkamah Konstitusi (MK).

Pasek menyoroti ironi sikap kubu Prabowo saat ini jika dibandingkan dengan manuver politik pada masa pencalonan. Ia mengingatkan bahwa Prabowo sempat merayu Gibran hingga empat kali demi mendapatkan tuah politik dari Jokowi.

“Kini setelah Gibran resmi menjadi Wapres lalu diserang balik soal ijazah sampai ke MK, kubu Prabowo terkesan cuek dan tidak mau tahu. Seharusnya tim pemenangan totalitas ikut ‘berperang’ melawan serangan ini, bukan malah jadi penonton dan membiarkan pencalonan Wapres diobok-obok,” ujar Pasek dalam keterangannya.

Lebih lanjut, Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantra itu menolak keras wacana ketatanegaraan yang menarasikan bahwa posisi Prabowo akan tetap aman dan bisa mencari pengganti jika MK mengabulkan gugatan diskualifikasi Gibran.

Ia menekankan bahwa konstitusi mengatur pencalonan presiden dan wakil presiden sebagai satu kesatuan paket yang tak terpisahkan.

Menurutnya, mekanisme penggantian wakil presiden dengan menyodorkan dua calon untuk dipilih oleh MPR hanya berlaku apabila wakil presiden petahana meninggal dunia, berhalangan tetap, atau terjerat tindak pidana.

“Logika mengganti Wapres dengan menyiapkan dua calon untuk dipilih di MPR itu hanya berlaku jika wakil presiden menjabat meninggal dunia, sakit permanen, atau melakukan tindak pidana. Jika syarat awal pendaftaran yang bermasalah, ya satu pasangan gugur. Waktu dicoblos juga fotonya berpasangan,” urai Pasek.

Dari kacamata politik, Pasek mencium indikasi kuat adanya pengkhianatan dari internal koalisi pemerintahan. Ia mengibaratkan dinamika saat ini layaknya pihak-pihak yang berebut makanan, namun melupakan proses panjang saat mengumpulkan bahan dan memasak bersama.

Serangan masif terhadap posisi Gibran yang minim pembelaan dinilai sebagai bagian dari manuver yang sengaja dibiarkan oleh elite ambisius pengincar kursi RI-2. Kecurigaan tersebut, menurut Pasek, diperkuat dengan mulai maraknya manuver “tebar pesona” yang dilakukan oleh sejumlah tokoh potensial ke ruang publik.

“Kalau mau dilihat secara kasatmata, sangat terlihat dari kutub mana permainan ini dijalankan. Urut saja latar belakang para pentolannya yang bergerak, publik akan tahu dari mana sebenarnya pemegang remote permainannya dan bagaimana guratan lukisan skenario itu diawali. Kalau saya sih hafal,” pungkas Pasek.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *