Thursday, September 24News That Matters

Kredit Tumbuh 13,6%, BI Kasih Insentif ke Bank yang Genjot Penyaluran


Wacana Berita, Jakarta –

Bank Indonesia (BI) mendorong perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit seiring pertumbuhan kredit yang mulai menguat. Gubernur BI Destry Damayanti mencatat kredit perbankan tumbuh 13,6% pada Agustus 2026, terutama ditopang oleh kredit investasi dan kredit modal kerja.

Hal tersebut disampaikan Destry dalam Konferensi Pers Sinergi Kebijakan Moneter dan Fiskal di Gedung BI, Jakarta, Kamis (24/9/2026). 

Menurutnya, pertumbuhan kredit memang belum optimal, tetapi aktivitas sektor swasta mulai menunjukkan pergerakan positif.

“Kalau kita lihat pertumbuhan kredit ini hingga di kuartal kedua, memang masih banyak didorong oleh government led. Tapi data terakhir, kita melihat sektor swasta itu sudah mulai bergerak naik,” ucap Destry.

Menurut Destry, dari sisi permintaan, mulai bergeraknya sektor swasta menjadi salah satu alasan BI tetap menjaga ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Namun, dari sisi penawaran, masih ada bank yang memilih menempatkan likuiditasnya pada surat berharga dibanding menyalurkannya sebagai kredit.

Untuk mendorong fungsi intermediasi perbankan, BI menerapkan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) melalui skema insentif dan disinsentif. Bank yang meningkatkan penyaluran kredit akan mendapat tambahan insentif likuiditas. Sebaliknya, bank yang terlalu banyak menempatkan aset likuid pada surat berharga akan dikenai disinsentif.

“Kita melihat bank-bank yang terlalu banyak mengalokasikan aset likuidnya dalam bentuk surat-surat berharga, apakah itu SBN atau SRBI, akan kita berikan disinsentif. Sementara bank yang menyalurkan kredit akan kita berikan insentif,” jelasnya.

Destry menilai pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja menjadi sinyal positif karena menunjukkan mulai mengalirnya pembiayaan ke sektor-sektor produktif. Kredit investasi, khususnya, dinilai dapat mendorong penambahan kapasitas ekonomi.

“Ini hal yang bagus, karena artinya pertumbuhan kredit itu masuk ke sektor produktif. Ini menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi terus berputar dengan kapasitas ekonomi yang bertambah karena ada kredit investasi,” katanya.

Meski mendorong penyaluran kredit, BI tetap memantau risiko di sektor perbankan. Destry menyebut rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) perbankan berada di level 2,1%.

Baca Juga: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen

Baca Juga: Usut Transaksi Tidak Sah DANA, Bank Indonesia Desak Investigasi Menyeluruh

BI bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga rutin melakukan stress test terhadap berbagai skenario risiko, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi. Dari hasil pemantauan tersebut, kondisi perbankan dinilai masih cukup memadai.

“Kami rutin di KSSK melakukan stress testing dengan berbagai skenario. Sejauh ini kami masih melihat, khususnya perbankan, masih dalam posisi yang cukup memadai,” tegas Destry.

BI pun menilai sinergi kebijakan moneter dan fiskal tetap penting untuk menjaga stabilitas sekaligus membuka ruang pertumbuhan ekonomi. Salah satu kuncinya adalah memastikan fungsi intermediasi perbankan berjalan lebih kuat sehingga likuiditas dapat mengalir ke sektor-sektor produktif.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *