Thursday, September 24News That Matters

Harga Minyak Dunia Tertekan, Harapan Damai AS-Iran Menguat


Wacana Berita, Jakarta –

Harga minyak mentah bergerak melemah pada perdagangan Rabu (23/9/2026), tertekan oleh meningkatnya pasokan dari kawasan Teluk serta harapan terhadap penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran melalui jalur diplomasi.

Minyak mentah Brent sempat turun 78 sen atau 0,79% menjadi US$98,47 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,21 atau 1,34% menjadi US$89,31 per barel.

Kedua kontrak tersebut telah mencatat penurunan selama enam sesi perdagangan berturut-turut dan berada di sekitar level terendah dalam dua pekan.

Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Arab Saudi kembali mengoperasikan East-West Pipeline yang sebelumnya ditutup akibat serangan drone pada 11 September 2026. 

Jalur pipa tersebut menjadi salah satu infrastruktur penting untuk mengalihkan minyak mentah menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada jalur Selat Hormuz.

Pipa tersebut memiliki kapasitas hingga 7 juta barel per hari (bph), sementara Saudi Arabia sebelumnya menggunakan jalur ini untuk mengalihkan sekitar 4 juta bph atau sekitar 4% dari pasokan minyak global.

Namun, pemulihan ke kapasitas penuh diperkirakan membutuhkan waktu beberapa pekan karena sejumlah stasiun pompa mengalami kerusakan akibat serangan.

Selain Arab Saudi, Irak juga meningkatkan ekspor minyaknya. Menteri Perminyakan Irak menyebut ekspor negara tersebut telah mencapai lebih dari 3 juta bph dan diperkirakan dapat meningkat menjadi lebih dari 600.000 bph melalui jalur Turki.

Perbaikan prospek pasokan tersebut turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi minyak dari Timur Tengah.

Di sisi lain, pasar juga mencermati perkembangan komunikasi antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump mengatakan utusannya telah melakukan pembicaraan dengan mediator Iran untuk mencari jalan mengakhiri konflik.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran sedang mempelajari respons AS terhadap proposal untuk mengakhiri permusuhan. Pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut AS terhadap Iran disebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam perundingan tidak langsung. 

Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis, Pasar Menanti Prospek Perundingan AS-Iran

Pejabat Iran tersebut bahkan menyebut Selat Hormuz berpotensi dibuka kembali dalam waktu tujuh hari apabila AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Namun, ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda. Kepala keamanan Iran Mohsen Rezaei mengatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama tuntutan Teheran belum dipenuhi. Kondisi tersebut membuat pasar minyak tetap sensitif terhadap setiap perkembangan konflik dan diplomasi AS-Iran. 

Dari Amerika Serikat, data persediaan minyak mentah juga menjadi faktor yang menekan harga. Persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 3 juta barel menjadi 426,4 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sekitar 641.000 barel.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *