Wednesday, September 23News That Matters

Inflasi Medis Disebut Tembus 17%, Primaya Dorong Deteksi Penyakit Lebih Dini


Wacana Berita, Jakarta –

Primaya Hospital menilai kenaikan pengeluaran kesehatan yang kerap disebut sebagai inflasi medis lebih banyak dipengaruhi peningkatan volume pasien dan kompleksitas penyakit, bukan semata-mata kenaikan tarif layanan medis.

Chief Executive Officer Primaya Hospital Leona A. Karnali mengatakan tarif medis relatif tidak banyak berubah dan bahkan cenderung menurun karena adanya diskon maupun promosi. Di sisi lain, kenaikan klaim, terutama dari perusahaan asuransi, turut mendorong peningkatan pengeluaran kesehatan.

“Sedangkan yang kedua mengenai inflasi. Nah, itu sebenarnya inflasi kata inflasi medis, itu bukan berarti tarif, sekali lagi. Tarif medis tuh nggak berubah gitu, bahkan cenderung menurun. Karena ada diskon, promo, dan sebagai-sebagainya. Itu jujur tidak banyak berubah, tetapi memang klaim. Klaim terutama asuransi memang ada kenaikan. Karena volume pasien bertambah, jenis penyakit semakin kompleks. Sehingga pengeluaran kesehatan itu memang ada peningkatan yang disebut 17% itu,” ujar Leona saat menjawab pertanyaan Wacana Berita dalam konferensi pers Primaya Fair 2026 di AEON Mall BSD City, Rabu (23/9/2026).

Menurut Leona, kenaikan biaya kesehatan juga berkaitan dengan semakin banyaknya kasus yang membutuhkan penanganan dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Primaya Hospital mengembangkan kemampuan menangani kasus yang lebih kompleks dan advanced. Langkah tersebut ditujukan agar kebutuhan perawatan dengan tingkat kompleksitas tinggi dapat ditangani di dalam negeri sehingga dapat mengurangi biaya akomodasi pasien.

Namun, Leona menekankan pengendalian biaya kesehatan bukan hanya menjadi tanggung jawab rumah sakit. Pasien juga memiliki peran melalui upaya preventif dan promotif, terutama dengan mengenali penyakit sejak tahap awal.

“Tapi tentunya nomor satu yang harus kita lakukan bersama dan merupakan tanggung jawab semua orang termasuk pasiennya adalah preventif dan promotif. Jadi kalau misalnya kita bisa mengenali penyakit kita lebih dini, pasti inflasi medisnya juga akan lebih berkurang,” tuturnya.

Leona mengatakan penyakit yang telah memasuki tahap berat umumnya membutuhkan biaya penanganan lebih besar dibandingkan penyakit yang terdeteksi sejak dini.

“Karena kalau misalnya penyakit udah kadung parah, mau nggak mau jadi mahal. Tapi kalau kita sudah deteksi lebih awal, pasti bisa lebih lebih affordable,” katanya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *