
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Kyiv siap menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia. Namun, langkah tersebut mensyaratkan Moskow melakukan tindakan serupa terhadap sektor energi, infrastruktur kritis, dan ekspor pangan Ukraina.
Pernyataan itu disampaikan Zelenskyy melalui media sosial X pada Senin (21/9/2026), setelah berdialog dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keduanya dijadwalkan bertemu secara langsung di New York di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB untuk membahas formula perdamaian.
Wacana deeskalasi tersebut muncul setelah Trump berulang kali menyoroti dampak serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia dalam percakapan telepon pada 20 September. Serangan terhadap fasilitas energi Rusia disebut turut mendorong lonjakan harga diesel global di tengah ketegangan militer di Iran.
Zelenskyy menilai penghentian serangan terhadap aset-aset penting Ukraina perlu menjadi bagian dari upaya menurunkan eskalasi. Menurutnya, jika Rusia menghentikan serangan terhadap sektor energi, infrastruktur kritis, dan ekspor pangan Ukraina, Kyiv siap mengambil langkah yang sepadan.
Zelenskyy juga menyatakan jalur diplomasi masih terbuka untuk dibahas bersama para mitra internasional. Opsi penyelesaian konflik akan menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuannya dengan para mitra di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah meningkatnya serangan udara Ukraina terhadap sejumlah fasilitas kilang minyak utama Rusia pada akhir pekan. Serangan itu disebut menewaskan tiga orang.
Trump sebelumnya menyoroti dampak serangan tersebut terhadap industri diesel Rusia. Melalui Truth Social, ia menyebut sejumlah kilang diesel Rusia mengalami kerusakan dan untuk sementara tidak beroperasi.
Presiden AS itu juga mendesak agar perang Rusia-Ukraina segera dihentikan. Ia menyoroti besarnya jumlah korban jiwa yang muncul akibat konflik tersebut.
Baca Juga: Ribut dengan Beberapa Media, Pemerintah AS Luncurkan Trump TV
Trump sebelumnya juga mengingatkan Zelenskyy saat berada di Irlandia agar mengubah sasaran serangan militer Ukraina. Ia meminta Ukraina tidak menjadikan bahan bakar diesel sebagai target karena dinilai berkontribusi terhadap kelangkaan.
Kondisi tersebut terjadi ketika harga diesel di Amerika Serikat mencapai US$6,50 per galon. Situasi ini menjadi tekanan politik bagi pemerintahan Trump menjelang pemilu paruh waktu.
Selain agenda pertemuan AS-Ukraina, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga dijadwalkan berada di Washington untuk bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
