
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta menyebut penggunaan gas bumi memberikan efisiensi sekitar 75% dibandingkan saat masih menggunakan biosolar untuk operasional boiler. Sebelum beralih, rumah sakit mengonsumsi rata-rata 1.000 liter biosolar per hari.
Teknisi Pemeliharaan Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit (IPSRS) RSUP Dr. Sardjito, Arismantoro, mengatakan peralihan ke gas bumi dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengikuti program pemerintah.
“Selama ini kita menggunakan gas itu rata-rata efisiensinya bisa sekitar 75% rata-rata ya,” tutur Arismantoro saat ditemui di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, Selasa (15/9/2026).
Gas bumi tersebut digunakan untuk mengoperasikan boiler yang menghasilkan uap. Uap ini kemudian dimanfaatkan untuk sejumlah kebutuhan rumah sakit, mulai dari layanan Gizi, Central Sterile Supply Department (CSSD), hingga laundry.
Sebelum menggunakan gas bumi, boiler RSUP Dr. Sardjito mengonsumsi rata-rata sekitar 1.000 liter biosolar per hari. Kini, penggunaan biosolar untuk boiler telah dihentikan.
“Dulu kita menggunakan biosolar, sekarang sudah tidak menggunakan biosolar lagi untuk boiler. Kita beralih ke gas,” bebernya.
Selain boiler, gas bumi juga digunakan untuk kebutuhan memasak di dapur rumah sakit. Sebelumnya, kebutuhan tersebut menggunakan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Arismantoro menjelaskan penggunaan gas bumi dinilai lebih ekonomis dibandingkan bahan bakar sebelumnya. Dari sisi biaya, penggunaan LPG dan biosolar jika dikonversikan relatif berdekatan, tetapi gas bumi memberikan efisiensi yang lebih baik.
“Kalau kita bandingkan dengan LPG, solar itu hampir sama. Tapi yang jelas lebih ekonomis yang gas ini, yang CNG,” jabarnya.
Untuk pasokan, gas bumi yang digunakan RSUP Dr. Sardjito dialirkan melalui jaringan pipa setelah melalui fasilitas milik PGN. PGN menyebut skema pasokan tersebut sebagai CNG clustering, yakni gas bumi yang diangkut menggunakan moda non-pipa menuju fasilitas pengatur tekanan sebelum kemudian dialirkan melalui jaringan ke pelanggan.
Dengan skema tersebut, gas yang diterima rumah sakit digunakan seperti gas pipa untuk kebutuhan operasional. Skema ini diterapkan karena wilayah Yogyakarta belum terhubung langsung dengan jaringan pipa gas bumi utama.
Dari sisi operasional, Arismantoro menyebut pasokan gas sejauh ini berjalan tanpa kendala berarti. Rumah sakit tetap menyiapkan bahan bakar cair sebagai cadangan untuk kondisi darurat.
Baca Juga: Marugame Udon Yogyakarta Uji Coba Penggunaan CNG Gaslink, Begini Hasilnya
Baca Juga: Hotel Platinum Klaim Biaya Energi Hemat 30% Usai Beralih ke CNG Gaslink
Penggunaan gas bumi juga memberikan manfaat dari sisi emisi. Menurut dia, penggunaan gas membuat pengelolaan emisi dari boiler lebih baik dibandingkan ketika rumah sakit masih menggunakan biosolar.
“Untuk sekarang emisinya untuk CO aman,” tandasnya.
Peralihan tersebut, lanjut Arismantoro, terutama didorong kebutuhan efisiensi dan kebijakan pemerintah.
“Terutama efisiensi. Kemudian yang mendasar kan mengikuti program pemerintah itu,” tutupnya.
