Monday, September 21News That Matters

Magnet Bisnis dan Investasi Tetap Kuat


Wacana Berita, Jakarta –

Sydney kembali menjadi titik temu sejumlah tokoh Indonesia dari berbagai bidang. Dalam beberapa pekan terakhir, mantan pejabat pemerintah, pelaku bisnis, ekonom, hingga figur industri kreatif tercatat berkunjung ke kota terbesar di Australia tersebut dengan beragam agenda.

Bagi Founder dan CEO One Global, Iwan Sunito, rangkaian kunjungan tersebut menunjukkan bahwa Sydney masih memiliki daya tarik kuat bagi masyarakat Indonesia, bukan hanya sebagai destinasi wisata dan gaya hidup, tetapi juga sebagai ruang bertemunya bisnis, investasi, talenta, dan gagasan global.

“Sydney bukan hanya tentang pemandangan yang indah atau gaya hidup. Bagi banyak orang, Sydney adalah tempat untuk bertemu, bertukar gagasan, melihat peluang, dan memahami bagaimana sebuah kota global terus berkembang,” ujar Iwan Sunito.

Salah satu kunjungan dilakukan Sandiaga Uno, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bersama delegasi Surabaya Business Forum. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Sydney Business Insights & Mini Marathon yang mempertemukan komunitas bisnis Indonesia dengan berbagai perspektif mengenai bisnis, investasi, pariwisata, serta perkembangan Sydney.

Iwan berkesempatan menerima Sandiaga dan delegasi di One Global Resorts Green Square. Pertemuan tersebut menjadi momen tersendiri bagi Iwan karena keduanya telah saling mengenal sejak Sandiaga menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

“Saya telah mengenal Sandiaga cukup lama, sejak beliau menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Oleh karena itu, pertemuan kali ini terasa cukup spesial. Kami tidak hanya berbicara mengenai bisnis, tetapi juga bertukar pikiran dan ide, serta melihat berbagai perkembangan dari perspektif masing-masing,” tuturnya.

Menurut Iwan, kunjungan pelaku usaha dan komunitas bisnis Indonesia ke Sydney mencerminkan semakin luasnya ketertarikan terhadap perkembangan kota tersebut.

“Ketika pelaku usaha dan komunitas bisnis Indonesia datang ke Sydney, mereka tentu tidak hanya melihat gedung atau properti. Mereka ingin memahami bagaimana pasar bergerak, bagaimana sebuah kota membangun infrastrukturnya, bagaimana masyarakatnya berkembang, dan di mana peluang yang mungkin bisa dikembangkan,” ujarnya.

Kunjungan tokoh Indonesia lainnya dilakukan Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Perdagangan dan mantan Managing Director of Development Policy and Partnerships World Bank. Mari berada di Sydney dalam rangka perjalanannya mengikuti Sydney Marathon.

Pertemuan Mari dengan Iwan juga berlangsung dalam suasana personal karena keduanya telah lama bersahabat. Keduanya bertukar pandangan mengenai perkembangan Indonesia dan Australia serta peluang konektivitas kedua negara.

“Mari adalah sahabat lama saya. Tentu menyenangkan bisa bertemu, berbincang dan bertukar pandangan dengan beliau saat berada di Sydney. Pembicaraannya pun tidak hanya mengenai bisnis, tetapi juga mengenai bagaimana Indonesia dan Australia terus berkembang dan memiliki banyak ruang untuk saling terhubung,” ungkap Iwan.

Sydney juga menjadi tujuan figur industri kreatif Indonesia. Aktor laga internasional sekaligus mantan atlet judo nasional, Joe Taslim, tercatat menginap di One Global Resorts Green Square bersama timnya.

Bagi Iwan, tiga kunjungan sepanjang September tersebut memiliki latar belakang berbeda, tetapi memperlihatkan daya tarik yang sama terhadap Sydney.

“Hal yang menarik bagi saya adalah orang datang ke Sydney dengan alasan yang berbeda-beda. Ada yang datang untuk bisnis, ada yang untuk olahraga, ada yang bertemu teman, ada yang mengeksplorasi peluang. Tetapi semuanya bertemu pada satu hal: Sydney masih menjadi kota yang ingin mereka datangi dan pahami,” katanya.

Sydney Tak Sekadar Properti

Iwan menilai daya tarik Sydney bagi investor tidak hanya ditentukan oleh sektor properti. Infrastruktur, konektivitas internasional, pendidikan, pariwisata, gaya hidup, hingga lingkungan bisnis menjadi bagian dari ekosistem yang membuat sebuah kota memiliki daya tarik investasi.

“Investor saat ini tidak hanya melihat sebuah aset. Mereka juga melihat kotanya. Apakah kota tersebut memiliki konektivitas? Apakah ekonominya berkembang? Apakah orang ingin tinggal, bekerja, berbisnis dan menghabiskan waktu di sana? Semua itu menjadi bagian dari value sebuah investasi,” jelasnya.

Performa One Global Resorts Green Square turut mencerminkan aktivitas tersebut. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, hotel bintang lima tersebut mencatat rata-rata okupansi 95,07% dengan gross income sekitar AU$10,8 juta.

Properti milik One Global Capital itu juga memperoleh penghargaan Travelers’ Choice Best of the Best 2026 dari Tripadvisor dan menempati posisi ke-11 dari 195 hotel di Sydney.

Bagi Iwan, pencapaian tersebut bukan semata-mata mengenai angka bisnis.

“Angka tentu penting, karena menunjukkan performa bisnis. Tetapi di balik angka tersebut, ada orang yang datang, tinggal, bekerja, bertemu, dan menikmati Sydney. Itu yang menurut saya jauh lebih menarik,” ujarnya.

Sebagai pengusaha kelahiran Indonesia yang membangun karier dan bisnis di Australia, Iwan melihat semakin intensifnya kunjungan masyarakat Indonesia ke Sydney sebagai bagian dari hubungan yang lebih luas antara kedua negara.

“Saya lahir di Indonesia dan membangun bisnis di Australia. Jadi ketika melihat semakin banyak orang Indonesia datang ke Sydney, saya melihatnya sebagai sebuah jembatan. Ada hubungan yang terus tumbuh antara kedua negara, bukan hanya melalui perdagangan dan investasi, tetapi juga melalui people-to-people connection,” katanya.

Menurut Iwan, kemampuan sebuah kota global dalam menarik talenta, modal, wisatawan, pelaku usaha, dan investor akan menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan daya saingnya.

“Pasar bisa naik-turun. Kondisi ekonomi juga bisa berubah. Tetapi kota yang memiliki fundamental kuat akan terus beradaptasi. Sydney memiliki ekosistem yang membuat orang ingin kembali, bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali,” katanya.

Pada akhirnya, menurut Iwan, daya tarik Sydney bukan hanya terletak pada apa yang dapat dilihat, tetapi juga pada peluang untuk menjadi bagian dari dinamika kota tersebut.

“Orang datang tidak hanya untuk melihat Sydney, tetapi untuk menjadi bagian dari kota ini—bisa hanya untuk beberapa hari, beberapa bulan, atau jangka panjang,” pungkasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *