
KORAN MANDALA – Hembusan angin sore menyapu perbukitan Desa Saguling, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (17/9/2026).
Di tengah kesunyian, terdengar derak kayu yang beradu disusul dengung nyaring yang mengalun dari ketinggian.
Suara itu datang dari kolecer, permainan tradisional berbahan kayu yang masih dimainkan anak-anak di kawasan perbukitan Saguling.
Pembuangan Sampah Ilegal, Apakah Pengawasan Pemkot Bandung Berjalan?
Di bawahnya, tawa anak-anak sesekali pecah ketika bilah-bilah kayu berputar semakin cepat diterpa angin.
Bagi mereka, suara kolecer bukan sekadar bunyi yang memenuhi udara sore. Ada kesenangan sederhana ketika melihat permainan yang mereka pasang sendiri bergerak mengikuti hembusan angin.
Kolecer dibuat dari sebilah papan kayu yang dirancang sedemikian rupa agar dapat berputar ketika diterpa angin. Bilah tersebut dipasang pada ujung tiang bambu yang tingginya bisa mencapai sekitar lima meter.
Permainan itu memiliki ciri khas tersendiri. Pada bagian porosnya terdapat seruling bambu kecil yang oleh masyarakat setempat disebut pari. Ketika bilah kayu berputar, pari menghasilkan suara dengung yang khas dan dapat terdengar hingga cukup jauh.
Angin menjadi faktor penting bagi permainan tersebut. Semakin kuat hembusannya, semakin cepat pula kolecer berputar dan semakin nyaring suara yang dihasilkan.
“Lamun anginna ngarah ka kolecer, suarana alus, a,” ujar salah seorang anak sambil memperhatikan kolecer milik kelompoknya yang terus berputar.
Kondisi geografis kawasan Saguling yang berada di wilayah perbukitan dan berdekatan dengan perairan Waduk Saguling membuat hembusan angin sore menjadi bagian penting dalam permainan tersebut.
“Wah, komo keur halodo kieu mah, angin ti Bendungan Saguling tarik. Kolecer muterna oge jadi tarik, suarana oge jadi tarik,” katanya sambil tertawa.
Bagi anak-anak Saguling, musim kemarau justru menjadi waktu yang dinanti. Ketika angin bertiup lebih kencang, kolecer dapat dimainkan dan menghasilkan suara yang lebih kuat.
Di tengah semakin beragamnya permainan modern dan penggunaan gawai di kalangan anak-anak, kolecer menghadirkan pemandangan berbeda. Mereka masih memilih menghabiskan waktu di ruang terbuka, menunggu arah angin dan menyaksikan bilah kayu berputar di atas perbukitan.
Kolecer pun bukan hanya permainan. Keberadaannya menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat sekaligus menunjukkan bahwa permainan tradisional masih memiliki ruang di tengah perubahan zaman.
Di perbukitan Saguling, derak kolecer terus mengikuti hembusan angin. Sederhana, tetapi dari suara kayu yang berputar itu, sebuah tradisi masih menemukan cara untuk tetap hidup.
