
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (18/9/3026). Mata uang Garuda terparkir di level Rp17.758 per dolar AS, atau melemah tipis 5 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.753.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipicu defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hingga Agustus APBN Defisit Rp240,1 triliun atau setara 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Adapun, defisit ini dicapai dengan catatan pendapatan negara lebih rendah dari belanja yakni Rp 2.055,6 triliun atau mencapai 65,2% dari target dalam APBN 2026. Sementara itu, belanja mencapai Rp 2.295,7 triliun,” kata dia kepada wartawan.
Angka defisit ini, kata Ibrahim, sebelumnya sudah disampaikan Purbaya Yudhi Sadewa minggu lalu. Secara keseluruhan tahun, pemerintah memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun 2026 akan berada di sekitar 2,85% dari PDB (atau setara Rp734,3 triliun), sedikit di atas target awal APBN yang sebesar 2,68% PDB.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur dan fenomena El Nino pada tahun 2026 kembali menjadi perhatian pasar. Kondisi panas dan kering yang berlangsung disejumlah wilayah indonesia meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, ketersediaan air hingga kebakaran hutan dan lahan.
Baca Juga: Pendapatan Negara Tumbuh 25,4%, Kok APBN Masih Defisit Rp240 Triliun?
Baca Juga: APBN Defisit Rp240,1 Triliun per Agustus 2026
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga terus mengingatkan mengenai kondisi kemarau dan potensi kekeringan diberbagai wilayah sampai akhir tahun 2026.Persoalannya El Nino bukan hanya tentang perubahan cuaca.
“Jika tidak diantisipasi dengan baik, fenomena ini dapat memberikan tekanan baru terhadap perekonomian Indonesia terutama melalui jalur pangan dan Inflasi,” ungkap dia.
